SHOURAI CHAPTER 1 (Beside You & Her)

Minggu, 23 Juni 2013
Shourai Author: Yuiki Nagi-chan PM
"Aku mencintaimu. Aku selalu menunggu dan mencintaimu Hinata."/Bukankah Kami-sama begitu adil?/SakuNaruHinaSasu/...::NaruHina ever after::... / Last Chapter Update!
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Naruto U. & Hinata H. - Chapters: 7 - Words: 14,942 - Reviews: 112 - Favs: 40 - Follows: 9 - Updated: 06-21-12 - Published: 04-20-12 - Status: Complete - id: 8041710 

...
Aku tahu kamu merindukanku. Aku tahu kamu mencintaiku. Tapi, aku mencintai dia dan selamanya akan terus seperti itu.
...
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story: Yuiki Nagi-chan
Warning: AU, OoC, TYPO, bad for EYD & Language, NaruHina rules
.
.
.
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
...::Shourai::...
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
-1-
~Beside You and Her~
.
.
.
.
.
Aku berlari dengan cukup kencang, menerobos angin musim gugur yang mulai menusuk tulang. Tujuanku kini hanya berlari. Berlari ke tempat yang sepi dimana tidak ada seorangpun yang bisa melihatku saat ini. Tapi nyatanya aku berlari tidak lebih jauh dari seekor siput air. Tetap masih di kawasan Universitan Enma. Dan masih tetap menangis...
"Kau habis patah hati, kan?"
Seseorang datang dan menepuk bahuku dengan lembut. Tapi aku sama sekali tidak berniat menggubrisnya. Tetap berdiri di bawah pohon maple dengan kedua tangan menutupi wajahku yang penuh air mata.
"Aku juga habis patah hati," aku bisa merasakan kalau tubuh orang itu juga bergetar karena tangannya sedari tadi belum beranjak dari bahuku. Mungkin dia juga sedih dan merasakan... sakit.
"Kau dan aku sama-sama habis patah hati. Jadi, bagaimana kalau kita pacaran saja? Saling melengkapi dan menghibur satu sama lainnya."
Aku merasa itu adalah tawaran terbodoh yang pernah ku dengar. Dan aku yang menyetujuinya mungkin lebih bodoh lagi.
"Baiklah. Kita pacaran untuk masa depan kita."
.
.
.
"Ada apa?" Hinata mengerutkan alisnya saat tiba-tiba Naruto menghampirinya dan menatap langsung wajahnya. Beberapa mahasiswa yang belum keluar dari kelas itupun menyempatkan diri menonton keromantisan pasangan yang menurut banyak mahasiswi paling harmonis di universitas Enma tersebut.
Cengiran Naruto bertambah lebar saat Hinata mulai ketakutan dengan jarak wajah Naruto yang makin mendekati wajahnya. "A-ada apa, sih?"
"Ternyata benar kata Kiba. Kalau diperhatikan lebih teliti, kau memang imut Hinata."
Blush!
Hinata tidak bisa lagi menahan rona merah di wajahnya. Entah apa maksud Naruto mengatakan hal itu padanya, yang pasti Hinata tidak akan mau lagi membayarkan hutang Naruto pada Pak Teuchi, pemilik kedai ramen langganan kekasihnya itu.
"Hari ini aku tidak bisa membayar hutangmu, Naruto," akhirnya Hinata menarik kesimpulan kalau Naruto sedang lapar dan ingin makan ramen. "Dan tolong jangan ganggu aku sekarang. Aku benar-benar dikejar deadline," keluh Hinata. Gadis Jepang tulen itu memang seorang novelis yang karyanya cukup digemari oleh remaja-remaja sekarang. Sayangnya, Hyuuga Hinata sang novelis yang dikenal penggemarnya berbeda 360 derajat dengan Hyuuga Hinata, mahasiswi yang kuliah di universitas Enma.
"Kenapa kau malah bilang begitu, sih?" Naruto pura-pura merajuk. "Aku malah ingin mentraktirmu makan di restoran Perancis."
"Eh?" Hinata menghentikan kegiatannya yang sedari tadi berusaha fokus mengetik naskah novelnya. "Tumben. Memangnya ada apa?"
"Ikut saja," cengiran Naruto kembali menghiasi wajahnya dengan sempurna.
"Awas kalau nanti aku yang bayar," Hinata mengancam seraya memasang wajah murka yang di buat-buat.
"Itu tidak akan terjadi, kok!"
.
.
.
Hinata sudah menduga kalau hal ini akan terjadi. Hal buruk yang membuatnya selalu jengah karena harus melihat ekspresi ceria Naruto yang terlalu dibuat-buat. Ia tahu pemuda itu ingin menangis saat ini, hal itu terbukti dengan menguatnya genggaman tangan Naruto pada tangan mungil Hinata. Masalah lainnya, kedua orang yang-tidak-tahu-diri di hadapannya dan Naruto kini masih betah berbasa-basi ria.
"Tanganku sakit, Baka ..." bisik Hinata geram. Naruto melirik Hinata dari sudut matanya. Kedua mata biru cerah itu mengiba.
"Sebentar saja ... sampai aku merasa tenang."
Entah kenapa Hinata jadi tidak tega.
"Jadi, itu pacarmu, Naruto?" gadis cantik dengan rambut pink yang dikuncir satu itu tersenyum menggoda pada Naruto. "Cantik. Kau pintar memilih pacar ternyata."
"Ya, boleh juga," kini lelaki berkulit pucat yang duduk di samping gadis berambut pink itu menyahut seraya tersenyum hingga kedua matanya menyipit. "Salam kenal, Hyuuga-san."
Hinata mengangguk formal sambil berusaha melengkungkan bibirnya, mencoba membentuk sebuah senyuman. Sayangnya itu malah membuat ekspresi Hinata terasa semakin kaku.
"Tidak usah tegang, Hinata," sepasang emerald itu menatap Hinata dengan ramah. "Kami teman Naruto, berarti juga temanmu, kan?"
Hinata mencoba kembali tersenyum. Sayangnya usaha itu kembali gagal total.
"Ahaha... pacarku ini memang agak kikuk!" Naruto tertawa seraya menepuk punggung Hinata keras-keras.
Hinata menggeram marah. "Apa yang kau lakukan, Baka!" Hinata berbisik penuh nada ancaman. Naruto kembali nyengir ke arah Sakura dan Sai lalu memeluk pinggang Hinata se-erat mungkin. "Please, bantu aku ..." Naruto balas berbisik.
Hinata terpaksa membiarkan Naruto terus berceloteh dengan topeng kebahagiaannya itu. Jika tahu kedatangannya ke restoran Perancis ini hanya untuk membantu Naruto bersandiwara di depan Sakura, orang yang sangat dicintai Naruto, sudah pasti Hinata bakal menolaknya mentah-mentah.
Tapi yang lebih menusuk perasaannya adalah ekspresi Naruto yang serba palsu. Senyumannya, tawanya, raut wajahnya. Semuanya hanya sandiwara. Akting untuk menyembunyikan betapa hancur perasaannya saat ini. Dan entah mengapa Hinata ikut merasakan hal yang sama.
"N-Naruto-kun ..." Hinata terpaksa ikut andil dalam sandiwara ini. "P-pulang, yuk ..."
"Eh? Sekarang?" Hinata mengangguk seriang mungkin sedang Naruto sendiri mengirim sinyal lewat kedua matanya.
'Apa maksudmu, sih?'
'Aku tidak tahan lagi! Pulang sekarang, atau kita putus!'
Naruto terpaksa menuruti keinginan Hinata. "Eh, aku dan Hinata pulang duluan, ya? Soalnya sudah ada rencana lain sore ini."
"Lho, kok cepat banget?" Sakura terlihat tidak rela tapi akhirnya tersenyum. "Ya, sudah. Hati-hati, ya? Kapan-kapan kita reunian lagi berempat."
"Pasti!" sahut Naruto penuh semangat. Setelah itu Naruto pergi dengan di seret paksa oleh Hinata menuju tempat parkir.
"Aku benar-benar tidak mengerti," Hinata berkata lirih. Kini mereka berdua sudah berada di samping motor merah milik Naruto. "Kalau mau bertemu mereka, seharusnya kau tidak perlu mengajakku. Dan lagi, kau seharusnya menyiapkan mentalmu. Aku jengah melihat ekspresi palsumu itu."
Naruto terdiam dengan kunci motor di tangan kanannya. Ia tahu, mungkin ini terlalu egois. Tapi sayang hatinya terlalu bersikeras untuk mengajaknya bertemu Sakura. Orang yang selalu ia cintai.
"Oh ya, jangan lagi mengiba padaku," Naruto mengerutkan keningnya saat melihat Hinata yang membelakangi dirinya. "Itu membuat hatiku terasa... aneh."
"Memangnya aku tadi mengiba, ya?" Naruto bertanya dengan polos membuat Hinata tertawa geli mendengarnya.
"Baka," Hinata mencubit pelan lengan kekar Naruto. "Kau itu terlalu naif."
"Naif?"
"Sudahlah. Cepat antar aku pulang."
.
.
.
Hinata's Pov
Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhnya dan menyandarkan kepalaku pada punggungnya yang hangat. Dulu, saat masih SD, Naruto adalah teman sekelasku yang tubuhnya paling pendek. Entah sejak kapan tubuh pendek itu meninggi hingga merubah sosoknya yang terlihat bodoh menjadi pria hangat yang penuh kharisma.
Motor merah yang kami naiki bergerak dengan kecepatan stabil, tapi aku tetap tidak ingin melepas pelukanku pada tubuh tegapnya. Aku menyukai bau tubuhnya yang maskulin dan rambut pirangnya yang terlihat bergerak indah tertiup angin. Dan aku iri pada Sakura, gadis yang sejak dulu selalu memenuhi hatinya. Hanya dia. Dan sama sekali tidak ada ruang kosong lagi untukku.
"Kau kenapa Hinata? Kedinginan?"
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Mungkin dia heran kenapa aku begitu erat memeluk tubuhnya saat ini.
Seandainya dia tahu kalau aku menerima tawarannya untuk berpacaran karena aku cinta padanya, mungkin semua ini hanya akan jadi impianku saja.
Mungkin ini egois. Tapi aku akan berusaha untuk menunggu lagi.
"N-Naruto-kun ..."
"Hah? Kau memanggilku apa?"
"Tidak. Bukan apa-apa."
Bahkan sampai sekarang aku masih takut memanggilnya 'Naruto-kun'.
"Oh ya, Hinata! Kudengar dari beberapa mahasiswa, kau dulu katanya sangat pemalu dan gagap saat bicara?"
Kenapa dia malah mengungkit hal itu?
"M-memangnya kalau benar, kenapa?" tanpa sadar aku kembali tergagap karena malu. Padahal sejak dulu aku berusaha menghilangkan kebiasaan ini agar bisa dekat dengan Naruto. Ini konyol.
"Ternyata memang benar," Naruto tertawa. Sayang aku tidak bisa melihat ekspresinya saat ini. "Tapi menurutku, mau tegas atau pemalu, kau tetap manis Hinata."
Aku tidak mengerti. Untuk apa lagi dia mengatakan hal seperti itu. Membuatku terlalu berharap lebih padanya.
"Gombal."
"Gombal?"
Tuh, dia bahkan tidak sadar kalau kata-katanya tadi lebih mirip gombalan.
"Hal yang ku katakan tadi, kan kenyataan. Kenapa kau bilang aku gombal?"
Aku semakin menenggelamkan wajahku pada punggungnya yang dilapisi jaket orange-hitam favoritnya. Mencoba menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua pipiku. "Sudahlah, lupakan saja."
"Maaf, aku lupa berterima kasih padamu."
"Untuk apa?"
"Tadi, saat di restoran ..."
Aku tersenyum. Tapi entah mengapa perasaanku terasa hampa. Kosong. Semuanya terlalu menyakitkan.
"Itukan sudah kewajibanku sebagai pacarmu."
Dan Naruto kembali tertawa.
"Ah, ya. Itu alasan kita untuk saling mengikat hubungan."
Benar. Tidak ada cinta dalam hubungan ini. Semuanya hanya kepura-puraan yang terlalu dipaksakan.
End of Hinata's Pov
-:-
"Kyaaaa, coba lihat lelaki itu! Dia tampan banget!"
"Style-nya juga bagus!"
"Eh, bukannya dia itu putra bungsu Uchiha Fugaku?"
"Apa? Uchiha Fugaku?"
"Kyaaaa, tampan dan elit!"
"Berarti dia salah satu pewaris Uchiha Corp, kan?"
"Tentu saja! Dia kan si jenius dari keluarga Uchiha yang merupakan bangsawan terkaya di Jepang."
"Aku ingin jadi pacarnya!"
"Jangan mimpi, deh!"
Suasana universitas Enma kala itu terlihat lebih ramai dan berisik daripada biasanya. Beberapa mahasiswi yang tidak mendapat jam kuliah pagi terdengar makin menggila dengan suara mereka yang saling bersahut-sahutan. Semua kebisingan itu terhenti sejenak saat seorang gadis menerobos jalur karpet merah sang bungsu Uchiha yang tengah berjalan dengan arogansinya yang tinggi menuju gedung utama universitas Enma.
Gadis itu awalnya berjalan dengan tergesa-gesa, tapi di detik ke-25 ia mempercepat langkahnya hingga akhirnya berlari. Berlari, tanpa melihat siapa yang ada di dihadapannya hingga peristiwa memalukan itu terjadi.
"Apa yang kau lakukan?" suara itu mengalun halus dengan dingin dan intonasi yang datar. Uchiha itu tidak terjatuh, tapi gadis dengan kedua mata yang unik itu terpaksa merelakan ponsel kesukaannya hancur karena terlepas dari tangannya saat menabrak pemuda itu.
Ponsel itu jatuh. Hancur. Hinata tidak mempermasalahkan harganya, tapi ia menyesali kecerobohannya karena ponsel itu adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya. Banyak kenangan dalam ponsel itu yang berhasil membuat Hinata ingin menangis saking merasa bersalahnya.
"P-ponselku ..." Hinata meratapi rongsokan yang tadinya adalah ponselnya. Kedua matanya berlinang air mata dan Uchiha tampan di hadapannya membeku.
Yang salah gadis itu, kan? Kenapa peristiwa ini terjadi seakan-akan ialah sang penjahatnya?
"Berhentilah menangis. Kau membuatku malu."
Hinata tetap menangis seraya memeluk rongsokan ponselnya dengan erat. Semua orang yang tadi menyambut Sasuke dengan rasa bahagia kini mulai saling berbisik satu sama lainnya.
"Bangunlah! Aku akan mengganti ponselmu dengan yang lebih mahal."
Gagal. Hinata masih tetap menangis. Kini tubuhnya bahkan bergetar hebat.
"Akan ku perbaiki sampai kembali seperti semula."
Hinata mendongak, menatap pemuda tampan itu dengan kedua matanya yang terlihat berkaca-kaca. "B-benarkah?"
"Ya."
"T-terima k-kasih!" Hinata mengucapkan terima kasih dengan gagap dan wajah yang memerah karena tangisan tadi. Ia merasa bersyukur karena foto Hanabi, adik perempuan kesayangannya yang sudah lama meninggalkan dunia akhirnya bisa selamat dan ia bisa menatapnya kembali nanti. Foto itu adalah foto terakhir Hanabi yang masih selamat di galeri ponselnya setelah ayahnya membakar habis foto Hanabi yang ada di dalam rumah.
Sasuke, pemuda Uchiha yang arogan itu terpaksa menerima rongsokan ponsel Hinata dengan berat hati. Ia berusaha sabar untuk menjaga imej dan popularitasnya di universitas barunya ini.
"Ah, maaf! Aku ada janji dengan kekasihku. Sekali lagi terima kasih, Uchiha-san."
Dan Hinata pergi, meninggalkan Sasuke yang mengumpat kesal atas kejadian barusan.
-:-
Universitas Enma bukanlah universitas terbaik di Jepang. Tentu saja ia kalah dari Todai yang mematok standar nilai yang tinggi untuk para mahasiswanya. Alumninya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik dari universitas itu. Seharusnya, begitu tapi semua pendapat barusan terhapus sudah setelah Uchiha Sasuke masuk ke sana sebagai orang paling berperan dalam perekonomian Jepang.
Hinata segera keluar dari kelasnya setelah jam kuliahnya berakhir untuk hari ini. Ia harus segera menuju halaman belakang universitasnya untuk kembali melanjutkan naskah novelnya yang tertunda sekaligus menunggu Naruto untuk kembali pulang bersama. Ia dan Naruto memang mengambil jurusan yang berbeda, tapi tetap menyempatkan diri untuk terus bersama walaupun ikatan mereka tidak didasari dengan cinta.
Suara beberap burung yang berkicau merdu dan desiran angin musim semi yang membawa wangi bunga Sakura membuat Hinata di serang kantuk luar biasa. Hinata baru ingat bahwa tadi malam ia kembali lembur untuk menyelesaikan bab ke-5 dari novel yang baru dirilisnya. Dan saat kedua matanya hampir tertutup rapat, Naruto datang dan menghancurkann ketenangan di sana.
"Sudah lama menungguku, ya?"
Hinata hanya mengangguk walau sebetulnya ia belum terlalu lama menunggu Naruto lalu mengangkat kedua tangannya keatas, berniat merenggangkan tubuhnya yang sempat kaku. "Ayo pulang."
Naruto mengangguk seraya memainkan kunci motornya pada jari telunjuknya. Hinata mengikuti dengan pandangan yang sayu. Kantuk kembali menyerangnya.
Mereka memutari universitas Enma untuk menghampiri tempat parkir yang ada di halaman depan universitas. Saat Naruto bersiap untuk menyalakan motor kesayangannya itu, Sakura muncul dan langsung memeluknya dengan tangisan yang memilukan.
"N-Naruto!" isaknya parau. "Sai berselingkuh dengan Ino di belakangku!"
Detik itu juga kantuk Hinata hilang dalam sekejap.
"Tenanglah Sakura-chan."
Dan Naruto membalas pelukan gadis cantik itu seraya mengelus puncak kepalanya dengan lembut. "Ayo, kita jalan-jalan sebentar."
Sakura hanya mengangguk patuh. Naruto menolehkan kepalanya pada Hinata yang masih terdiam di tempatnya. "Maaf, Hinata. Aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini."
"T-tidak apa-apa."
Bohong. Hinata merasakan kalau hatinya kembali terasa kosong dan perih.
"Syukurlah. Kalau begitu aku dan Sakura-chan akan pergi sebentar. Setelah sampai di rumah aku akan meneleponmu."
Hinata hanya mengangguk lemah.
Dan mereka pergi. Hinata tahu ia tidak akan bisa melakukan apapun. Karena itu ia memilih untuk melepaskan pemuda itu bersama gadis yang memang ia cintai.
"Sekarang ... bagaimana caraku pulang?"
"Hyuuga, ponselmu sudah ku perbaiki."
Pemuda Uchiha itu kembali muncul di depan Hinata dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Cepat masuk ke mobilku. Kita akan segera mengambilnya di toko tempatku memperbaiki ponselmu."
.
.
.
>> Read More FATALLITY_ErrOR

Lirik Lagu & Chord Bruno Mars - Grenade

Selasa, 26 Maret 2013
Oke...kali ini saya akan memposting chord gitar lagu Bruno Mars yaitu "Grenade" versi saya sendiri nih...
Saya yakin nih chord cocok dengan lagu aslinya dan semoga kalian puas akan postingan saya ini, amin.....


Lirik Lagu & Chord Bruno Mars - Grenade

*
Dm
Easy come, easy go, that’s just how you live
      Am
Oh, take, take, take it all but you never give
Dm
Should’ve known you was trouble from the first kiss
      Am
Had your eyes wide open, why were they open?
Dm
Gave you all I had and you tossed it in the trash
      Am
You tossed it in the trash, you did
Dm
To give me all your love is all I ever asked
    A#                                            A
‘Cause what you don’t understand is

Reff   :
                  Dm         A#  F
I’d catch a grenade for ya
     C                           Dm    A#  F
Throw my head on a blade for ya
  C                          Dm    A#  F
I’d jump in front of a train for ya
  C                          Dm    A#  F
You know I’d do anything for ya
A#                                  C
I would go through all this pain
F                                  C           Dm
Take a bullet straight through my brain
C    A#
Yes, I would die for you, baby
 A
But you won’t do the same

**
Dm
No, no, no, no
Dm
Black, black, black and blue, beat me ’til I’m numb
   Am
Tell the devil I said, hey, when you get back to where you’re from
Dm
Mad women, bad women, that’s just what you are, yeah
     Am
You’ll smile in my face then rip the brakes out my car
 Dm
Gave you all I had and you tossed it in the trash
    Am
You tossed it in the trash, yes, you did
Dm
To give me all your love is all I ever asked
  A#                                            A
‘Cause what you don’t understand is

Reff :
                  Dm         A#  F
I’d catch a grenade for ya
     C                           Dm    A#  F
Throw my head on a blade for ya
  C                          Dm    A#  F
I’d jump in front of a train for ya
  C                          Dm    A#  F
You know I’d do anything for ya
A#                                  C
I would go through all this pain
F                                  C           Dm
Take a bullet straight through my brain
C             A#
Yes, I would die for you, baby
 A
But you won’t do the same
                 

G                          
If my body was on fire
  Dm                 
Ooh, you’d watch me burn down in flames
G                          
You said you loved me, you’re a liar
 A
‘Cause you never, ever, ever did, baby

* Back to Reff
Dm
No, you won’t do the same
A
You wouldn’t do the same
Dm
Ooh, you never do the same
A                  Dm
No, no, no, no
>> Read More FATALLITY_ErrOR

LOVELY WAITRESS CHAPTER 10 (EPILOGUE)

Minggu, 17 Maret 2013
Lovely Waitress

Author: Blueberry Cake 
Rok biru yang mengembang dan di rambutnya tersemat sebuah hiasan kepala warna putih. Walau hanya seorang pengantar makanan, tetapi gadis ini mampu membuat seorang lelaki memimpikannya setiap malam. EPILOG...
Rated: Fiction K - Indonesian - Romance/Friendship - Naruto U. & Hinata H. - Chapters: 10 - Words: 33,651 - Reviews: 140 - Favs: 40 - Follows: 2 - Updated: 06-19-10 - Published: 03-05-10 - Status: Complete - id: 5793472 



Horay! Akhirnya selesai juga epilog ini! Jujur aja, setelah menyelesaikan fict ini Blue mau cuti dulu (emang pegawai?) dari FFN. Karena, sebentar lagi Blue mau tes dan tidak punya waktu untuk memikirkan fict baru. Namun, perayaan HTNH Blue tetap ikut kok. Karena fictnya sudah selesai tinggal di edit dan di publikasikan semuanya beres deh! Hehehehehe.. *tawa gaje*.
Disclaimer: Ah, males basa-basi. Kishimoto-sensei. *Om Kishi cengar-cengir*
Enjoy it!


Lovely Waitress
Angin berhembus pelan menerpa dedaunan yang berada di dahan-dahan pohon. Pohon nyiur melambai-lambai seakan memanggil kita untuk mendatanginya. Suasana pantai bernuansa langit jingga yang cerah, tampak sangat anggun dan indah. Pemandangan yang sayang untuk dilewatkan dan sangat menarik untuk dinikmati. Berapa kali pun dilihat, Pantai Kuta akan tetap indah. Tak bisa menghilangkan kecantikan dan eksotis dari pantai ini.
Terlihat seorang wanita muda mengenakan sex dress putih dengan sebuah topi Panama berwarna pink bertengger di atas kepalanya menghiashi mahkota Indigonya yang indah itu. Menyusuri pantai berpasir putih itu sambil melihat ombak yang bergulung-gulung tertiup angin yang lumayan kencang.
"Huaaah! Huaaaaah!" seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun berambut pirang pucat dan berkulit putih tengah menangis. Dan, dilihat dari wajahnya anak itu berasal dari Eropa.
"Hey Dear. What are you doing in here? Why you crying?" tanya wanita muda bernama Hinata itu. Bocah kecil itu mengelap air matanya sambil mengusap air matanya sesegukan.
"I'm… I'm lost my Mom…" Hinata tersenyum lembut lalu mengelus rambut bocah itu.
"Come on, I'll help you find your mother…" kata Hinata mengulurkan tangannya. Bocah itu menggapai tangan Hinata dan mulai berjalan mencari ibu bocah itu.
"What's your name?"
"Ehm… Mike… And, you?"
"Hinata… Hyuuga Hinata… I'm from Japan…"
"I see. Your face is sweet and beautiful. And, your eyes slightly slanting." ucap Mike polos. Semburat merah muncul kembali di wajah Hinata.
"Hahahaha.. You excessive. I'm not as pretty as you think. I'm just an ordinary woman." ujar Hinata.
"No, it's true! You're beautiful and kind, Miss." Hinata tertegun mendengarnya. Bagaimana bisa bocah berumur 6 tahun berkata seperti itu? Siapa pun yang dikatakan seperti itu akan tersipu, tak terkecuali Hinata.
Seorang wanita berambut pirang panjang sedikit ikal tengah kebingungan mencari sesuatu dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir. Dan, mata hijaunya tertuju pada Hinata dan Mike.
"Mike!"
"Mom!" Mike segera berlari ke arah wanita itu dan mendapatkan pelukan yang sangat erat yang Hinata ketahui itu adalah ibunya.
"Mom, look. Miss it has helped me. She's helping me to find you." kata Mike menunjuk-nunjuk Hinata. Hinata tersenyum.
"Thanks! Thanks for help my boy!" kata wanita itu. Hinata mengangguk-angguk.
"You're welcome. I'm so glad to meet your boy. He's a good kid. And, never separated from your mother again. Okey?" ucap Hinata. Mike tersenyum senang.
Hinata menghela nafas dan melambaikan tangannya pada Mike yang melambai padanya. Langit sore yang berwarna jingga itu menarik perhatian Hinata untuk melihat kecantikan warna alami seperti darah itu. Melihat anak kecil seperti itu, membuat Hinata mengelus perutnya yang rata itu.
"It turns out here that my good-hearted woman. Loving child." seru seorang pria yang memeluk Hinata dari belakang secara tiba-tiba.
"Naruto-kun.. Kau mengagetkanku. Jangan memeluk secara tiba-tiba." protes Hinata. Naruto menyengir.
"Gomen ne, Hime-chan. Aku terlalu terkesima melihat kau dengan anak kecil tadi. Kau memang calon ibu yang baik." puji Naruto berbisik di telinga Hinata menghasilkan warna merah muda di pipi gadis—ehm, wanita Uzumaki itu.
Naruto mengelus pelan perut Hinata yang kemudian disusul Hinata memegang tangan Naruto. Hinata tersenyum lembut pada Naruto.
"Sudah mempunyai sebuah nama?"
"Tentu saja." Hinata tersenyum.
"Siapa?"
"Hmm… Kalau cowok, akan kuberikan nama Uzumaki Hitoru. Dan kalau cewek kuberikan nama Uzumaki Neika." jawab Naruto seraya memeluk erat istri tercintanya itu.
Ya, Hinata tengah hamil 2 bulan. Dan, mereka sekarang berada di Bali, pulau yang mempunyai sejuta keindahan alam yang terbentang luas di dunia. Naruto dan Hinata sedang menikmati bulan madu mereka selama seminggu di Bali. Banyak hal-hal yang menarik bisa memikat pasutri itu untuk menikmatinya. Semenjak kehamilan pertama Hinata, Naruto mengaku sering pusing dengan permintaan Hinata yang terkadang aneh. Namun, itu tetap dilakukannya karena demi istri dan buah hatinya.
"Sudah kuduga itu kau, Nona Hyuuga." celetuk seorang pria berkaca mata hitam menggandeng seorang wanita berambut coklat panjang dikuncir kuda.
"Shino-san?"
"Apa kabar?" tanya Shino ramah. Naruto mengangkat satu alisnya heran ketika tahu Hinata mengenal pria bernama Shino itu.
"A-aku baik-baik saja. Oh ya, perkenalkan, ini suamiku. Uzumaki Naruto." kata Hinata memperkenalkan Naruto pada Shino. Naruto menjabat tangan Shino.
"Hoo.. Kau sudah menikah ya? Selamat ya atas pernikahanmu. Sebentar lagi aku juga akan menikah." ucap Shino merangkul gadis di sampingnya.
"Hinata-chan, siapa dia? Mengapa kau kenal dengannya?"
"Ini Shino-san. Yang saat itu mau dijodohkan oleh otousan. Tetapi, dia malah membantuku untuk kabur dari perjodohan itu. Baik sekali kan?" jawab Hinata. Naruto mengangguk-angguk.
"Terima kasih saat itu sudah menolong Hinata-chan." cetus Naruto.
"Sama-sama. Nah, silahkan kalian nikmati bulan madu kalian." Shino melambaikan tangan menjauhi Naruto dan Hinata sambil merangkul gadis berambut coklat yang berada di sampingnya.
"Hinata-chan… Berjanjilah…" pinta Naruto berbisik di telinga Hinata. Memeluk Hinata dari belakang.
"Apa Naruto-kun?"
"Bahwa… Kau akan selalu mencintaiku… Never leave me…" ucap Naruto memeluk erat-erat wanita yang kini sedang berada dalam pelukan cintanya yang sangat kuat. Enggan melepaskannya walau hanya seujung kukunya saja. Hinata tersenyum.
"Believe me… I never leave you… Karena hidupku, membutuhkanmu… Naruto-kun…" Hinata berbalik dan menepuk kedua bahu Naruto. Naruto tersenyum.
Ditemani angin pantai sore yang telah merubah warna langit menjadi jingga, menyibak pelan rambut kedua pasangan bercinta itu. Saling merasakan hangatnya cinta berdua tanpa ada seorang pun yang bisa menganggu dan memisahkan kesetiaan kedua insan tersebut. Ombak bergulung-gulung dengan indahnya, Naruto menyelipkan rambut indigo di telinga Hinata dan menarik pelan dagu gadis itu. Mengecup lembut bibir yang akan menjadi miliknya selamanya dan bisa merasakan sepuasnya manis alami bibir pualam itu.
Kini, kehidupan Naruto dan Hinata benar-benar sempurna. Mereka dua manusia yang bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain tanpa keberatan dan beban. Saling bisa memberikan kasih sayang yang tulus dan hangat tanpa ada kebohongan. Naruto akan menjadi ayah, sedangkan Hinata akan menjadi seorang ibu. Hinata mempunyai sebuah restoran kecil-kecilan yang sangat sukses di bidang kuliner dan Naruto bekerja di sebuah perusahaan pesawat terbang yang merencakan sebuah pesawat baru untuk dirangkai. Itulah awal dari kehidupan mereka yang sungguh sempurna. Naruto dan Hinata berharap, cinta mereka tetap akan terikat tanpa terputus walau salah satu dari mereka harus meninggalkan dunia..
.
.
.
.
END…

http://www.fanfiction.net/s/5793472/10/Lovely-Waitress 
>> Read More FATALLITY_ErrOR

LOVELY WAITRESS CHAPTER 9 (THE CONFLICT WHICH ENDED IN MARRIAGE)

Lovely Waitress

Author: Blueberry Cake 
Rok biru yang mengembang dan di rambutnya tersemat sebuah hiasan kepala warna putih. Walau hanya seorang pengantar makanan, tetapi gadis ini mampu membuat seorang lelaki memimpikannya setiap malam. EPILOG...
Rated: Fiction K - Indonesian - Romance/Friendship - Naruto U. & Hinata H. - Chapters: 10 - Words: 33,651 - Reviews: 140 - Favs: 40 - Follows: 2 - Updated: 06-19-10 - Published: 03-05-10 - Status: Complete - id: 5793472 

*cengo* Ahah… Ternyata banyak juga yang menanti kelanjutan fict ini. Blue benar-benar ga nyangka loh kalau ternyata fict Blue yang kacau ini banyak yang menunggu. Gilaaaa… Wahahahahahahaha! *kumat*. Maaf ya readers kalau Blue kelamaan updatenya, soalnya lagi sibuk mempersiapkan sebuah fict HTNH nanti. Ternyata Blue salah perkiraan yang di kira Blue HTNH itu tanggal 7 Juni ternyata 7 Juli, jadinya Blue kelabakan bikin fict HTNH. Tapi, fict itu sudah selesai dan sekarang saatnya untuk meneruskan kembali cerita ini. Untuk fict HTNH di tunggu aja sampai tanggal mainnya ya dan kalau perayaan seperti itu Blue hanya bisa bikin OneShot, soalnya kalau multichapter entar kagak keburu lagi. Hehehehe..
Disclaimer: Om Kishi~! Ternyata banyak menanti-nanti fict Blue! *meluk-meluk Om Kishi* Om Kishi: Enyah kau setan! *blue faint*
Enjoy it!

Lovely Waitress
Semenjak kejadian Naruto menyatakan cintanya pada Hinata, tak ada kata pisah dalam kamus kedua insan tersebut. Kemana pun mereka pergi pasti akan selalu berdua dan bersama tak pernah terpisahkan. Walau Hinata masih saja malu-malu menyadarinya bahwa kini statusnya telah berubah menjadi kekasih Naruto, tetapi itu tidak membuat Naruto menjadi sedikit ilfeel pada Hinata. Malah Naruto sangat senang bila melihat wajah kekasihnya merona merah seperti strawberry yang segar.
Sasuke dan Sakura pun tak kalah senang. Usaha dan misi mereka untuk mencomblangkan Naruto dan Hinata ternyata sukses besar. Terkadang, mereka suka mengadakan double date dimana mereka berjalan-jalan dengan pasangan masing-masing. Hinata masih suka malu-malu ketika Naruto mengenggam erat tangannya dan wajahnya pun berubah menjadi merah seperti biasa.
Naruto benar-benar sangat mencintai Hinata dengan tulus. Buktinya saja, Naruto tidak mau Hinata terkena virus flu yang sedang mewabah karena sedang musim hujan. Ketika hujan sering turun, Naruto menjadi sedikit posesif dan terkadang suka melarang Hinata keluar dari apartemen walau itu hanya sekedar pergi ke mini market di depan apartemennya. Naruto sangat melindungi Hinata mati-matian ketika ada segerombol pria berandalan menggoda Hinata dan menarik-narik tangan Hinata. Alhasil, wajahnya tak luput dari pukulan dan tendangan yang akhirnya harus diobati oleh Hinata. Hubungan mereka pun berjalan baik, dan sudah mencapai sebulan sejak mereka menjadi sepasang kekasih.
Semua begitu indah dan menyenangkan bagi kedua insan yang sedang merasakan indahnya kasih sayang dan cinta. Merasa hidup adalah milik mereka berdua tanpa ada satu orang pun yang bisa menganggu kemesraan dan percintaan mereka. Sampai akhirnya, kebahagian itu harus terhenti sejenak…
Hari Minggu, jam 4 sore. Hinata sedang asyik bersantai di beranda apartemennya sambil membaca sebuah majalah ditemani secangkir teh madu dan setoples keripik keju. Hinata memang sedang tidak ada kegiatan maka dari itu dia memilih untuk bersantai sejenak melemaskan syaraf-syaraf otot yang sudah beberapa lama ini menegang dan sudah lama tidak beristirahat sambil ditemani matahari sore yang bersinar begitu hangat. Sebenarnya, Hinata berniat untuk mengajak Naruto keluar mencari makan bersama, namun ketika gadis manis ini menelpon kekasihnya ternyata Naruto sedang ada kelas sehingga dengan terpaksa niat itu diurungkan.
Sedang asyik membolak-balikkan halaman majalah, terdengar sebuah ketukan dari arah pintu apartemennya. Lantas, Hinata bergegas menuju pintu untuk membukakannya sembari melempar majalah yang dipegangnya ke kursi mahoni.
"Siapa—Eh?"
"Hinata! Aku minta sekarang juga kau putuskan hubunganmu dengan pria itu!" bentak seorang pria berambut coklat panjang dengan wajah terlihat sangat murka membuat Hinata terkejut setengah mati.
"O-otousan? Ke-kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Hinata. Hiashi tidak menjawab. Tiba-tiba Neji muncul dari belakang Hiashi dengan wajah menunduk yang bisa menjawab pertanyaan Hinata tadi.
"Apa maksudmu kabur dari perjodohan itu hah? Kau sudah memalukan keluarga kita! Memalukan nama keluarga kita!"
"Bukankah aku sudah bilang aku tidak mau dijodohkan? Tapi kau tidak mau mendengarkanku! Jangan salahkan aku bila aku kabur dari perjodohan itu karena memang aku tidak menginginkannya! Aku tidak suka di paksa! Shino-san juga tidak menyukai perjodohan itu! Dia yang membantuku untuk kembali ke Konoha!" bantah Hinata yang sedikit membuat Hiashi terkejut karena Hinata tak pernah membantah seperti ini sebelumnya. Namun, Hiashi tidak bisa menjawab karena pernyataan Hinata benar. Wajahnya memerah menahan amarah yang sudah meledak-ledak. Hiashi mengeluarkan sebuah foto dan ditunjukkan pada Hinata.
"Siapa pria ini? Kau mempunyai hubungan khusus dengan pria ini?" tanya Hiashi menunjukkan foto seorang pria yang sangat dikenal oleh Hinata hingga Hinata tidak menyangka bagaimana ayahnya bisa tahu lelaki itu?
"Naruto-kun… Otousan, bagaimana caranya kau mengetahui dia? Apa kau menyewa mata-mata?"
"Benarkan kau mempunyai hubungan khusus dengan dia? Akhiri sekarang juga! Aku tidak mau kau berhubungan dengan pria itu lagi!" bentak Hiashi melempar foto itu ke wajah Hinata.
"Otousan! Kau tidak bisa menyuruhkan seenaknya saja! Aku tidak bisa menuruti perintahmu!" bantah Hinata dengan air mata yang sebentar lagi akan jatuh.
"Kalau kau tidak mau memutuskan pria itu… Biar aku yang melakukannya." kata Hiashi membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Hinata. Hinata membelalakan matanya.
"Otousan! Kau tidak boleh melakukan ini padaku! Neji-nii!" Neji menengok lirih ke arah Hinata dan menghela nafas panjang. Matanya terlihat sendu, itu pertanda bahwa Neji tak bisa membantunya apa-apa.
"Otousan! Hentikan perbuatanmu! Otousan!" Percuma, ketika Hinata mengejar Hiashi pintu lift sudah tertutup.
"Aku harus segera ke sana…"
0o0o0o0o0o0
"Aku pulang." ucap Naruto melempar tasnya ke atas sofa. Sepi.
"Mungkin ayah sudah kembali ke rumahnya." gumam Naruto mengingat perkataan Minato yang mengatakan bahwa dia harus segera kembali ke rumah dan kantornya karena ada suatu pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Hmm… Kalau tidak salah, Hinata-chan tadi mengajakku mencari makan. Ku sms saja sekarang." kata Naruto mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.
Belum sempat Naruto mencari kontak Hinata, seseorang mengetuk keras pintu kos-kosannya. Naruto sempat terkejut sebentar karena seseorang itu terdengar terburu-buru mengetuk pintu kosannya.
"Ya? Siapa—Eh?"
"Kau yang bernama Uzumaki Naruto?" tanya seorang pria yang ada dihadapannya. Naruto terbengong heran melihat lelaki itu yang memiliki mata seperti milik Hinata sebelum akhirnya ia menganggukan kepalanya.
"Anda siapa ya?"
"Saya Hyuuga Hiashi. Ayah dari Hyuuga Hinata. Saya datang ke sini untuk mengatakan kalau saya tidak menyukai kau berhubungan dengan putriku! Dan mulai saat ini, putuskan hubungan kalian!" bentak Hiashi membuat Naruto melotot kaget.
"Otousan!" panggil Hinata yang rupanya sedaritadi mengikutinya. Hinata sudah merasa kalau ayahnya akan menemui Naruto.
"Hinata, untuk apa kamu ke sini? Kembali ke apartemenmu!"
"Tidak! Aku tidak mau! Otousan tidak bisa memaksa kehendakku dan Naruto-kun!"
"Aku tidak suka kau berhubungan dengan pria ini, Hinata! Dan kau, jangan pernah dekati putriku lagi!" perintah Hiashi menarik kerah baju Naruto dan mendorong Naruto hingga tersungkur.
"Naruto-kun!" Hinata berniat untuk menolong Naruto, namun tangannya keburu ditarik oleh Hiashi.
"Hinata! Ayo pulang!"
"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan otousan! Naruto-kun!" Naruto memandang Hinata dan Hiashi dengan sendu. Cobaan apalagi yang akan diterimanya? Kemarin, hampir saja Shion menghancurkan cinta mereka dan sekarang Hiashi menentang hubungan mereka? Apa cinta mereka sedang diuji?
"Otousan tidak bisa memaksaku! Tidak seharusnya kau bersikap kasar pada Naruto-kun kan?" sengit Hinata.
"Hinata! Dengarkan ayah! Ayah tidak suka kau berhubungan dengan pria itu karena asal-usulnya tidak jelas! Aku tidak mau mempunyai menantu yang asal-usulnya tidak jelas!" bentak Hiashi.
"Naruto-kun tidak seperti itu! Dia mempunyai seorang ayah yang baik meskipun ibunya sudah meninggal, dia tetap tegar dan menjadi pria yang baik!"
"Pokoknya ayah tidak setuju hubunganmu dengan dia! Titik!" ketus Hiashi segera keluar dari apartemen Hinata.
"Otousan!"
"Hinata… Tabahkan hatimu ya. Aku akan berusaha membantu semampuku. Aku akan coba untuk berbicara pada paman Hiashi." kata Neji memegang kedua pundak Hinata untuk menghentikan langkahnya mengejar Hiashi. Hinata menangis tersedu-sedu di bahu Neji.
0o0o0o0o0o0
Sakura sedang asyik membaca majalah di atas kasur bersprei pink dengan selimut hijau yang hangat sambil mendengarkan lagu dari handphonenya. Sedang asyiknya bernyanyi-nyanyi, terdengar suara Haruno Sasami, ibu Sakura memanggilnya.
"Sakura! Ada temanmu menunggu di teras!"
"Siapa ya? Kok sore-sore begini?" gumam Sakura melepaskan headsetnya dari telinganya lalu beranjak pergi ke teras.
"Eh? Hinata?" panggil Sakura melihat sesosok gadis yang dikenalnya tengah membelakanginya. Mendengar namanya di panggil, Hinata membalikkan tubuhnya.
"Sakura-chan… Huhuhu…" Hinata langsung menghambur ke pelukan Sakura dan menangis di bahu Sakura. Sakura hanya heran melihat keadaan sahabatnya itu.
"Ada apa Hinata? Kenapa tiba-tiba kau menangis? Kau ada masalah? Baiklah, baiklah, ceritakan padaku di dalam ya." ujar Sakura membopong Hinata masuk ke dalam.
"Ceritakan padaku ada apa sebenarnya. Kau sedang bertengkar dengan Naruto?" tanya Sakura setelah meletakkan secangkir teh melati di depan Hinata. Hinata menggeleng pelan.
"Lalu?"
"O-otousan… Menentang hubunganku dengan Naruto-kun…" Sakura terperangah.
"Otousan? Bagaimana bisa?"
"Tadi sore, otousan datang secara tiba-tiba tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Ternyata otousan tahu hubunganku dengan Naruto-kun. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya otousan bisa tahu tentang aku dan Naruto-kun… Terlebih lagi… Otousan langsung menemui Naruto-kun dan menyuruhnya untuk tidak menghubungiku lagi… Ini semua gara-gara otousan…" ucap Hinata dengan air mata yang berlinangan. Sakura mengusap rambut Hinata pelan.
"Ehm.. Untuk kali ini maaf, Hinata. Aku tidak bisa banyak membantu karena ini menyangkut tentang kau dan ayahmu. Tapi, kalau aku boleh sarankan kenapa tidak kau perkenalkan saja Naruto pada ayahmu dan berbicara dengan kepala dingin? Mungkin ayahmu bisa mengerti.." kata Sakura memberi saran.
"Ta-tapi Sakura-chan.. Bagaimana kalau otousan tidak menerima kedatangan Naruto-kun? A-aku takut…"
"Percayalah. Ayahmu pasti juga akan mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya." kata Sakura memberi dukungan. Hinata mengangguk lemah.
"Lebih baik sekarang kau telfon Naruto saja."
.
.
.
.
Naruto tampak murung dan tidak bersemangat. Jus sirsak yang dipesannya tadi hanya diaduk-aduknya saja daritadi. Bahkan, dia tidak menyentuh ramen yang penuh asap mengepul berada di depan matanya. Ini lah yang membuat Sasuke sangat bingung dengan tingkah laku sahabatnya. Seorang Naruto tidak menyentuh semangkok ramen? Aneh sekali.
"Sudah lah. Jangan terlalu di pikirkan. Aku tidak menyangka kalau kau bisa sampai seperti ini hanya karena seorang gadis. Bahkan kau tidak menyentuh sedikit pun ramenmu itu." celetuk Sasuke melipat kedua tangannya.
"Bagaimana bisa aku makan dengan tenang kalau aku ada masalah seperti ini? Aku tidak seperti kau… Kau enak, sudah dapat restu dari orang tua Sakura. Sedangkan aku…" lirih Naruto kehilangan nafsu makannya sejak insiden tadi.
"Kemana sahabatku yang selalu ceria? Ayolah. Hanya permasalahan seperti itu saja kau sudah down. Ini tandanya cinta kau dan Hinata sedang diuji, apakah kalian bisa mempertahankannya?" sahut Sasuke.
"Benar juga ya. Kenapa aku harus menyerah? Mungkin saja ini adalah ujian atas rasa cintaku pada Hinata-chan. Aku harus bisa meyakinkan ayah Hinata-chan kalau aku benar-benar serius padanya." kata Naruto kembali bersemangat dan berdiri dari kursinya.
"Mau kemana?"
"Menemui Hinata-chan. Hehehe. Ja matte!" cengir Naruto lalu berlari menjauhi Sasuke.
"Baka.."
Naruto melangkah cepat ke arah apartemen Hinata. Naruto segera ingin menyelesaikan semua permasalahan ini dengan kekasihnya. Ia tidak mau, benar-benar tidak mau lagi kehilangan orang yang dicintainya. Cukup sekali saja baginya untuk kehilangan dan merasakan luka yang begitu sakit dan pilu yang masih saja dirasakannya hingga sekarang saat bersama Shion. Maka dari itu, Naruto benar-benar tidak menginginkan kepergian Hinata hanya karena sebuah alasan konyol yang tidak berarti.
Entah mengapa langkah Naruto berhenti tiba-tiba ketika melihat sesosok gadis yang dikenalnya tengah berjalan di dekat taman dengan wajah menunduk dan Naruto bisa melihat beberapa bola bening jatuh ke tanah.
"Hinata-chan!"
"Eh?"
Belum sempat Hinata menerka siapa yang memanggilnya, tiba-tiba tubuhnya langsung dipeluk erat oleh seseorang yang memanggilnya tadi. Begitu erat hingga membuat Hinata untuk sedikit sulit bernafas. Hinata masih diam mematung menerka-nerka siapa yang memeluknya ini. Harum citrus yang dikenalnya membuat Hinata tahu siapa dia.
"Naruto-kun…"
"Aku rindu padamu…" Hinata langsung membalas pelukan Naruto dengan erat. Sangat erat hingga rasanya Hinta merasa berat untuk melepaskannya. Begitu pula dengan Naruto. Ia tidak mau melepaskan Hinata walau hanya sedetik saja. Aroma grape yang berasal dari rambut panjang Hinata membuat Naruto betah untuk berlama-lama menyiumnya.
"Ma-maafkan aku atas sikap ayahku, Naruto-kun. A-aku juga tidak tahu kenapa otousan bisa tahu hubungan kita. K-kau marah ya padaku?" tanya Hinata menyembunyikan wajahnya di dada Naruto.
"Marah? Justru aku sangat khawatir padamu, Hinata-chan. Aku tidak mungkin bisa marah padamu hanya karena masalah seperti ini. Seharusnya aku yang meminta maaf karena membuatmu harus bertengkar dengan ayahmu. Ini semua karena aku." papar Naruto mengelus rambut indigo Hinata.
"Tidak! Ini bukan salahmu! Ini salah otousan! Otousan selalu memaksa kehendaknya, beliau memaksa diriku padahal aku tidak mau! Otousan—Ah?" Naruto menaruh telunjuknya di depan bibir mungil Hinata yang membuat Hinata berhenti berbicara.
"Walau kau sangat kesal dengan ayahmu, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu. Sesebal apapun kamu pada ayahmu, kau harus tetap menghormatinya sebagai orang tua kamu." kata Naruto membalikkan kata-kata Hinata saat dulu Naruto membenci Minato. Hinata terperangah.
"Go-gomenasai.. A-aku hanya takut kehilanganmu, Naruto-kun…" kata Hinata menundukkan wajahnya dan butir-butir air mata kembali jatuh dari mata lavendernya. Naruto menarik dagu Hinata agar Hinata bisa menatap matanya.
"Aku tidak akan pergi kemanapun… Percayalah…" kata Naruto. Hinata tak menjawab, namun wajahnya bersemu merah.
Hinata merasakan ada sesuatu yang aneh. Kenapa tiba-tiba udara di sekitarnya terasa hangat? Baru diketahuinya, ternyata wajah Naruto sangat dekat dengan wajahnya. Hinata terlihat salah tingkah dan kikuk, ia memejamkan matanya walau bulir-bulir air mata terus mengalir tanpa henti. Lalu… Naruto mencium lembut bibir Hinata yang dirasakannya sangat manis dan lembut. Hinata merasakan sensasi hangat yang dibuat oleh Naruto yang kemudian Naruto menyeka air matanya.
"Hmm… Kau begitu manis seperti strawberry." goda Naruto setelah melepaskan ciumannya.
"Na-Naruto-kun… Ja-jangan menggodaku…" celetuk Hinata sedikit mencubit pinggang Naruto.
"Aaw.. Sakit. Lagi dong?" Naruto malah tambah menggoda Hinata yang kemudian mendapat cubitan bertubi-tubi dari Hinata.
"Naruto-kun.. Apa kau berani bertemu dengan otousan? Mengatakan kalau kau serius denganku?" tanya Hinata. Naruto menghela nafas.
"Aku berani, Hinata-chan. Tentu aku berani kalau demi kamu.." kata Naruto mengusap rambut Hinata.
"Be-benarkah? Ka-kalau begitu, maukah kamu besok menemui otousan?" pinta Hinata. Naruto mengangguk dan tersenyum. Tampaknya, semalaman ini Naruto harus berlatih keras berbicara dengan Hyuuga Hiashi.
0o0o0o0o0o0
Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya sejak 10 menit yang lalu. Di sebuah rumah besar terletak di bagian selatan Konohagakuen, terdapat kolam ikan yang juga ada air terjun kecil. Seseorang sedang melemparkan makanan ikan ke arah kolam yang langsung disambut oleh ikan-ikan itu menanti sarapannya sejak tadi.
"Paman Hiashi. Bolehkah saya berbicara sebentar?" tanya seorang pria berambut coklat dengan kepala menunduk. Hiashi tak membalikkan tubuhnya.
"Ada apa, Neji?"
"Tentang Hinata." Gerakan tangan Hiashi yang daritadi melemparkan makanan ikan ke kolam terhenti sejenak.
"Kalau kau ingin mengatakan aku harus berpikir dua kali untuk menentang hubungan Hinata dengan pria itu, aku tidak akan menjawabnya." ketus Hiashi.
"Paman Hiashi, bisakah kita bicarakan dengan kepala dingin? Apa tidak terlalu kasar bila paman terlalu memaksakan kehendak paman yang sebenarnya tidak diinginkan Hinata?" papar Neji yang membuat Hiashi segera membalikkan tubuhnya.
"Apa maksudmu?"
"Hinata tidak mau dipaksa mencintai orang yang tidak dicintainya, paman. Itu adalah hal yang berat. Menurut dia, itu tidak akan membuatnya bahagia."
"Aku adalah ayahnya! Aku yang bisa menentukan kebahagiaan dia karena dia adalah anakku! Aku menjodohkan dia dengan pria pilihanku karena aku ingin dia hidup bahagia dengan suami yang memiliki pekerjaan baik dan tidak memalukan nama keluarga!" sentak Hiashi.
"Itulah paman. Paman terlalu mementingkan nama keluarga, sehingga paman tidak bisa menerima keputusan Hinata tersendiri. Hinata sudah dewasa, dia sudah sepantasnya mendapatkan hak untuk memutuskan sendiri pendamping hidup yang diinginkannya. Yang sesuai dengan keinginannya." sahut Neji.
"Tapi, bagaimana kalau pria yang dipilihnya adalah pria yang bajingan? Aku tidak mau hal itu terjadi."
"Apa menurut paman pria pilihan paman sudah menjadi yang terbaik?"
Hiashi terdiam.
"Belum tentu. Rumah tangga tidak akan berjalan bahagia bila tidak didasari oleh cinta. Hinata tidak mencintai pria yang dijodohkan dengannya. Mungkin saja pria bernama Shino itu mempunyai kebiasaan buruk yang tidak disukai Hinata. Yang benar-benar tahu kebahagiaan itu adalah Hinata sendiri. Hinata bisa memilih mana yang bisa membuatnya bahagia mana yang bisa membuatnya terluka. Dan, saya rasa Naruto adalah pria yang selalu membuatnya bahagia. Bukankah begitu, Paman? Paman juga melihat sendiri kan kalau akhir-akhir ini saat bersama Naruto, Hinata selalu kelihatan ceria. Naruto juga pria yang baik dan tidak melakukan tindakan yang tidak senonoh pada Hinata." ucap Neji membuat Hiashi mati kutu. Hiashi tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan.
Ting.. tong… Tiba-tiba bel berbunyi. Neji buru-buru menghampiri pintu depan dan membuka pintunya.
"Ohayou, Neji-nii…"
"Hinata? Dan… Naruto?" gumam Neji terkejut dengan kedatangan Naruto dan Hinata.
"Otousan ada? Aku dan Naruto-kun mau berbicara sebentar." kata Hinata. Neji mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk.
Neji langsung bergegas menuju Hiashi dan membisikkan sesuatu di telinga Hiashi yang membuat Hiashi terkejut seketika. Namun, itu tidak merubah raut wajahnya yang begitu dingin dan tegas. Neji langsung memanggil keduanya ke ruang tamu.
"Duduk." perintah Hiashi pada Naruto dan Hinata untuk duduk di depannya.
"Apa maksud kedatangan kalian?"
"Ehm… Sebelumnya, maaf Hyuuga-sama bila saya menganggu pagi anda." kata Naruto canggung.
"Panggil saya Hiashi."
"Ah.. Iya… Maaf… Maksud kedatangan saya dan Hinata-chan ke sini adalah untuk meluruskan masalah yang kemarin." Alis Hiashi bertaut tidak menyenangkan.
"Langsung saja."
"Hiashi-sama, saya ingin meminta restu dari anda bila saya diijinkan menjalin hubungan dengan Hinata-chan. Karena saya sungguh-sungguh mencintainya dengan tulus." ucap Naruto merasakan mulai kesemutan karena duduk bersimpuh.
"Lalu?"
"Kalau boleh, saya ingin tetap bersama Hinata-chan. Saya sungguh menyayanginya. Saya tidak berniat untuk melukainya apalagi menyakitinya. Saya ingin membahagiakan Hinata-chan karena Hinata-chan juga menyayangi saya. Saya juga tidak mau kehilangan dia. Dan terlebih lagi, saya datang ke sini ada hal lain juga yang saya mau katakan." kata Naruto. Hiashi menekuk alisnya.
"Hal lain? Apa itu?" Naruto melirik Hinata yang sedaritadi hanya menunduk dengan wajah memerah dan Naruto sedikit tersenyum melihat kekasihnya itu.
"Saya… Ingin melamar Hinata-chan.." Hiashi, Neji dan terlebih lagi Hinata sangat terkejut dengan perkataan Naruto. Terlebih lagi Hinata. Sejak kapan mereka merundingkan untuk mengatakan hal itu? Hinata benar-benar tidak tahu kalau Naruto akan merencanakan semua itu.
"Melamar putriku? Hm. Apa kau sudah siap? Berapa umurmu? Kau sudah bekerja atau masih kuliah? Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Hiashi bertubi-tubi seperti mengintrogasi pencuri.
"Ya! Saya sangat sudah siap, Hiashi-sama! Umur saya 25 tahun dan masih kuliah namun saya bekerja sambilan sebagai DJ di suatu café. Saya hanya memiliki seorang ayah dan ibu saya sudah meninggal. Ayah saya bekerja sebagai Direktur di suatu perusahaan bank swasta." ucap Naruto dengan semangat. Hiashi melihat tatapan mata yang tajam dari Naruto menandakan pria ini sangat suka bekerja keras dan bersemangat.
Naruto melirik lagi ke arah Hinata dan mendapatkan kekasihnya sudah menjadi daging matang dalam sekejap. Naruto menyengir. Hiashi memejamkan matanya memikirkan sesuatu.
"Minggu depan, suruh ayahmu datang kemari untuk membicarakan hal itu dan melangsungkan pernikahan kalian." kata Hiashi tiba-tiba. Naruto dan Hinata terbelalak.
"Benarkah itu otousan? Kau merestui kami?" tanya Hinata tidak percaya. Hiashi mengangguk pelan. Hinata langsung memeluk Hiashi dengan erat dan mencium pipi ayahnya itu.
"Arigatou, Otousan! Kau memang ayah terbaik di dunia!" puji Hinata lalu langsung menghambur ke pelukan Naruto. Wajah Hiashi bersemu merah ketika Hinata memeluknya karena selama ini Hinata tak pernah memeluknya seperti itu. Cinta kasih seorang anak dan ayah…
0o0o0o0o0o0o0
Lonceng gereja terus berdentangan tiada henti. Beberapa gadis menebarkan kelopak mawar putih pada undangan-undangan yang datang saat itu. Seorang pria berambut kuning jabrik seperti Naruto tengah merapikan jas yang dikenakan Naruto.
"Kau harus tampil gagah, Naruto." kata Minato.
"Hehehehehe. Tentu saja harus seperti itu!" sahut Naruto dengan cengiran khasnya.
"Ya. Karena, hanya dalam beberapa menit saja Hinata sudah bisa menjadi istrimu." ucap Minato membuat wajah Naruto merona merah.
"Tousan, apa-apaan kau..."
"Naruto, kau harus bersiap. Upacara sebentar lagi dimulai." kata Sasuke yang muncul dari pintu.
"Baiklah. Ini saatnya."
Kursi gereja yang panjang itu penuh dengan orang-orang yang telah diundang oleh Naruto dan Hinata. Mulai dari sahabat, teman, guru, rekan, saudara hingga teman dunia maya yang cukup dekat dengan mereka. Sasuke dan Sakura duduk di barisan paling depan agar bisa melihat secara jelas proses pernikahan Naruto dan Hinata. Sakura tampak tersenyum padanya dan mengucapkan 'selamat ya!' dan Sasuke mengacungkan jempolnya ke arah Naruto membuat Naruto salah tingkah.
Pintu gereja terbuka. Seorang pianis segera memainkan pianonya. Muncullah seorang gadis berambut indigo yang rambutnya digulung ke atas dan beberapa anak kecil mengikutinya dari belakang. Seorang pria paruh baya yang juga ada Hiashi menggandeng Hinata hingga ke tempat Naruto. Naruto benar-benar terperangah dengan penampilan Hinata yang mengenakan gaun pengantin itu. Sungguh anggun. Wajahnya yang merona di kedua pipinya semakin mempermanis aura Hinata membuat Naruto tak berkedip sekali pun.
"Uzumaki Naruto, apakah kau menerima Hyuuga Hinata sebagai istrimu walau dalam keadaan senang, sedih, sakit, sengsara dan bahagia?" tanya seorang pendeta.
"Aku bersedia."
"Hyuuga Hinata, apakah kau menerima Uzumaki Naruto sebagai suamimu walau dalam keadaan senang, sedih, sakit, sengsara dan bahagia?"
"A-aku bersedia."
Gemuruh meriah terdengar ketika kedua insan itu selesai melakukan upacara pernikahan. Naruto menatap Hinata yang kini telah menjadi istrinya. Perlahan, dibukanya tudung penutup wajah manis Hinata dan… Diciumnya perlahan dengan lembut bibir mungil Hinata yang membuat orang-orang di sekelilingnya bersorak gembira.
Cinta kasih dua manusia akan diuji untuk mengetahui bagaimana cara mereka untuk mempertahankan cinta mereka. Naruto dan Hinata sudah melewati beberapa rintangan yang mampu membuat cinta mereka mati di tengah jalan yang akhirnya berakhir dengan kebahagiaan tiada akhir dan selalu bersama sampai waktu menjemput mereka di kala mereka sedih atau duka. Naruto dan Hinata pun berjanji tidak akan pernah melepaskan ikatan cinta mereka dan genggaman tangan mereka walau waktu akan memisahkan mereka…
.
.
.
.
TBC…

http://www.fanfiction.net/s/5793472/9/Lovely-Waitress 



>> Read More FATALLITY_ErrOR

LOVELY WAITRESS CHAPTER 8 (CONFESSION)


Lovely Waitress

Author: Blueberry Cake 
Rok biru yang mengembang dan di rambutnya tersemat sebuah hiasan kepala warna putih. Walau hanya seorang pengantar makanan, tetapi gadis ini mampu membuat seorang lelaki memimpikannya setiap malam. EPILOG...
Rated: Fiction K - Indonesian - Romance/Friendship - Naruto U. & Hinata H. - Chapters: 10 - Words: 33,651 - Reviews: 140 - Favs: 40 - Follows: 2 - Updated: 06-19-10 - Published: 03-05-10 - Status: Complete - id: 5793472 

*cemberut 10 cm* Readers: Woy, Blue! Kenapa cembetut aja kayak buaya?
Gila ya! Parah abis! Blue baru aja nerima flame dari seseorang yang tak tahu diri dan meng-flame fict Blue seenaknya! Bukan fict ini sih, fict yang lain. Kata-katanya sungguh 'manis' dan 'menyenangkan'. Sudah jelas-jelas ada warningnya, dan sudah Blue katakan kalau Blue memang tidak berbakat di rate M dan akan berhenti sementara dari rate itu menunggu sampai cukup umur. Ya ampun, ini udah tahun berapa sih flame masih jaman aja. Dan dia mengatakan flame itu menyenangkan. Kenapa tidak dia flame (bakar) saja dirinya sendiri? Flame sih flame, tapi ga sampai segitunya juga kale.. Mungkin tuh orang tinggal di jaman baheula kali ya (curhat.. xD) Duh, duh, kenapa Blue malah curhat bukannya menjelaskan isi fict ini ya? Maaf ya, habis Blue bete berat sih dapat flame kayak gitu dari seseorang yang akhirnya membuat Blue down dan proses pembuatan chapter ini agak tersendat. Gomen ne…
Disclaimer: Om Kishi… Blue mau curhat! Huweeee~~! Om Kishi: Cup, cup, nanti om beliin balon yang bentuknya kotak ya. *blue sweatdropped*
Enjoy it!


Lovely Waitress

Naruto dan Minato keluar dari ruang persidangan sekitar pukul 13.00. Beruntung karena proses persidangan perceraian Minato dan Fuuka berjalan lancar. Sepanjang proses berjalan tadi, Fuuka tak henti-hentinya menangis membujuk Minato untuk menarik gugatannya agar tidak menceraikannya. Naruto yang berada di belakang kursi Minato, menatapnya sinis karena dia tahu bahwa Minato tak mungkin mencabut kembali keputusannya yang sudah bulat.
"Hmm.. Naruto, maafkan aku kalau selama ini aku salah padamu. Aku tidak mau mendengarkanmu sehingga aku bisa lihat sendiri bagaimana kebusukan Fuuka." ucap Minato. Naruto tak menjawab.
"Maukah kau memaafkanku?"
"Tousan ngomong apa sih? Ya jelaslah aku sudah memaafkan tousan! Ah, dasar. Daripada membicarakan itu bagaimana kalau kita makan? Perutku terus menyelenggarakan orkestra sejak 2 jam yang lalu." canda Naruto menyikut lengan Minato. Minato tersenyum senang.
"Naruto.. Kau.. Baiklah! Tousan yang traktir!" ujar Minato merangkul leher Naruto.
"Yippie! Asyik! Itu baru yang namanya otousanku!" seru Naruto girang. Minato menepuk-nepuk bahu Naruto dengan senang.
"Tousan, ceritakan dong tentang kau dan Kaasan." pinta Naruto sembari menyeruput ramennya.
"Hahaha. Memang kenapa? Kau mau tahu saja rahasia orang tua." kata Minato tertawa kecil.
"Aaah, otousan nggak asyik! Aku kan sudah umur 25 tahun, sepantasnya kan aku mengetahui asal-usulnya kalian berdua bisa bersama dan bagaimana terciptanya aku. Mungkin bisa kujadikan pelajaran untuk mencari calon istri." ucap Naruto kembali mengunyah ramennya.
Pipi Minato merona seketika saat Naruto mengatakan bagaimana bisa dia bertemu dengan Kushina dan bagaimana bisa dia menciptakan seorang anak bernama Naruto? Mengenang semua kenangan yang sudah lama dia tinggal bersama Kushina membuat Minato sedikit tersipu mengingatnya.
"Kau kenapa sih? Tiba-tiba ingin tahu ceritaku dengan Kushina. Hmm.. Kau sedang jatuh cinta ya? Sama siapa? Cantik tidak?" tanya Minato memasang tampang sok misterius yang membuat Naruto tersedak ramen.
"Uuh.. Otousan, apa-apaan kau. Sok tahu sekali.." keluh Naruto setelah meminum air dengan wajah memerah. Minato tertawa.
"Umurmu kan sudah 25 tahun. Masa tidak ada wanita yang kau sukai?"
"I-itu.. Ada sih.." jawab Naruto malu-malu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Siapa?"
"Ga-gadis yang pernah kuajak ke kos-kosan.. Gadis berambut indigo itu.." jawab Naruto menundukkan wajahnya dan berbicara tergagap seperti meniru gaya Hinata.
"Oooh! Gadis itu! Wah, pantas saja kau menyukainya. Walau cuma sekilas aku bisa melihat bahwa gadis itu manis sekali." celetuk Minato.
"Otousan! Ceritakan tentang dirimu dan Kaasan!" sentak Naruto karena tak tahan menahan malu yang membuatnya semakin matang dan memanas yang mungkin bisa membuat sebuah telur goreng di wajahnya (?)
"Hahahaha.. Iya,iya.. Akan kuceritakan.."
Flashback mode: on
Bel sekolah Konoha Saitani High School sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Namun, tampak seorang gadis berambut merah agak oranye berlari di tengah-tengah koridor. Beberapa bukunya pun jatuh membuat sang pemilik buku itu merengut tak jelas sambil mengambil buku-bukunya dengan tergesa.
"Aduh! Sial! Bisa dihukum lagi nih sama Tsunade-sensei!" keluh gadis bernama Kushina itu.
Mungkin karena terlalu sibuk memandangi arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 07.45 atau karena dia sangat terburu-buru, Kushina tidak melihat ada seseorang di depannya saat ia berbelok dan Kushina tidak bisa menghentikan langkahnya.
"Waaaa! Awas!"
"Eh? Huuaaaaaa!"
BRAK! BRAK! BRUK! BUK! Kalau saja kita berada di sana pasti akan mendengar suara-suara seperti itu. Kushina meringis kesakitan ketika dia merasa punggungnya terasa nyeri dan sakit. Kushina juga merasa ada sesuatu yang berat membuatnya tidak mampu berdiri.
"Aduh.. Hey, hey! Ba—Kya!" Kushina menjerit ketika dia melihat seorang lelaki berambut pirang jabrik tengah menimpa dirinya dengan posisi yang ehm.. tidak sebaiknya dilakukan di jalan atau koridor ini.
Bagaimana tidak? Posisi mereka sekarang dimana Kushina di bawah dengan seorang pria yang menindihnya dan wajahnya terbenam di antara kedua dada Kushina. Itulah yang membuat Kushina dan pria itu termangu sesaat untuk me-refresh pikiran mereka yang sempat loading lama. Lelaki itu mengangkat wajahnya dan terdapat semburat merah dikedua pipinya.
"Minato?"
"Ku-Kushina.. A-aku tidak seng—Adaw!" Belum sempat berucap dengan lengkap, Kushina sudah memberinya satu tamparan yang teramat sangat pedas sampai meninggalkan cap tangan berwarna merah.
"Pervert! Minato, kau memang mesum! Kenapa sih sifat mesummu tidak hilang?" omel Kushina menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya takut kalau-kalau Minato mencuri pandang.
"Aku kan tidak sengaja! Lagian, kau juga yang salah kenapa lari-lari di koridor! Buku-buku yang kubawa jadi jatuh semua kan?" jawab Minato tak kalah sengit. Wajah Kushina merah padam.
"Aku telat! Kya! Udah jam segini lagi! Gara-gara kamu menghalangi jalanku kan aku jadi telat banget!" cerca Kushina menghentakkan kakinya dan melangkah menuju kelasnya yang tinggal 12 meter lagi.
"Kushina!" panggil Minato. Kushina menengok heran.
"Tapi, dadamu cukup besar juga ya. Empuk. Seperti bantal." canda Minato menyengir tak bersalah. Dan, satu benjolan besar pun mendarat di kepala Minato.
0o0o0o0o0o0o0
Kushina duduk termangu di meja kantin. Melihat orang-orang berseliweran di depannya. Kushina menghela nafas malas sambil mengaduk-ngaduk orange juice yang tadi di pesannya. Moodnya jadi berantakan gara-gara kejadian pagi yang membuat naik pitam. Kushina benar-benar kesal dengan Minato karena menurutnya Minato hanya bisa menganggunya dan menggodainya saja. Sebab itulah, Kushina dan Minato tak pernah akur dan saling menjahili satu sama lain. Semua orang di Konoha Saitani High School pun sudah tahu sifat mereka yang seperti anjing dan kucing.
"Kushina-chan! Kok melamun sih?" tegur seorang gadis berambut hitam dan bermata hitam seperti kayu eboni. Kushina terkejut ketika gadis itu menepuk bahunya pelan.
"Huh, Mikoto. Jangan mengagetkanku. Aku sedang tidak bersemangat hari ini. Menurutku, ini hari sialku. Menyebalkan." keluh Kushina menyeruput orange juicenya. Mikoto tertawa kecil.
"Kamu kan selalu berkata seperti itu setiap hari. Memang ada apa sih? Minato-kun lagi?" tebak Mikoto memasukkan sepotong dango ke dalam mulutnya.
"Iya. Kau tahu tidak, tadi pagi adalah kejadian yang paling menyebalkan yang pernah terjadi." ujar Kushina menggebrak-gebrak meja.
"Memang ada apa?"
Bukannya bercerita, wajah Kushina malah memerah. Mikoto mengerutkan dahinya heran.
"Kok wajah kamu malah merah sih? Jadi curiga nih.."
"Tapi, janji jangan ketawa ya habis aku ceritain." kata Kushina dengan rona merah yang masih menempel di wajahnya. Mikoto mengangguk.
Kushina mendekatkan bibirnya ke arah telinga Mikoto mengatakan sesuatu yang membuat raut wajah Mikoto lama-kelamaan berubah seperti menahan tawa. Karena tidak tahan, meledaklah tawa Mikoto setelah Kushina bercerita.
"HAHAHAHA!"
"Mikoto! Hey, Mikoto! Diam! Aduh, ssssttt! Jangan berisik!" pinta Kushina berusaha membekap Mikoto tetapi Mikoto menghindar tak berhenti untuk tertawa.
"Hah, hah.. Huft.. hahahaha! Gomen ne, habis ceritamu lucu sekali. Aku tidak menyangka kau dan Minato bisa berposisi seperti itu." ucap Mikoto mengusap air mata yang sedikit keluar dari matanya.
"Kau kan sudah janji tidak menertawakanku!"
"Gomen, habis aku tidak tahan sih."
"Yaaaaa.. mau bagaimana lagi. Aku lagi buru-buru gara-gara sudah telat, eh dia malah muncul di situ. Kamu kan sudah tahu kalau aku lari kayak motor ga ada remnya, ga bisa berhenti. Jadinya, ya.. kita tabrakan.."ujar Kushina mengaduk orange juicenya dengan wajah memerah.
"Hihihi, segitu bencinya kah kamu dengan Minato-kun? Hati-hati loh, antar benci dan cinta itu beda tipis. Tipiiiiis banget kayak tisu." kata Mikoto tertawa kecil membuat Kushina langsung melotot kaget.
"Hah? Itu tidak akan pernah terjadi, Mikoto! Mimpi buruk apa aku kalau suatu saat aku bisa menyukai pria mesum dan bodoh itu? Hiii, semoga saja tidak. Ga akan pernah terjadi tahu!" elak Kushina memasang tampang malas. Mikoto hanya tersenyum.
Sesaat,mata Kushina menangkap benda berkilauan yang ada di jari manis Mikoto. Setelah diperhatikan baik-baik ternyata itu adalah sebuah cincin putih yang terbuat dari berlian yang sangat indah. Mikoto yang merasa cincinnya diperhatikan pun sedikit menutupi cincinnya dengan wajah malu-malu.
"Naaah, cincin dari siapa tuh? Hmm.. Dari Fugaku ya?" tebak Kushina dengan wajah menggoda dan berhasil membuat Mikoto tersipu malu.
"Iya.. Kemarin dia memberikanku cincin ini. Bagus tidak?" tanya Mikoto. Kushina menarik tangan Mikoto dan memperhatikan cincin itu.
"Bagus sekali. Ini berlian asli kan? Fugaku memang keren sekali memberikanmu barang mahal seperti ini. Dasar Uchiha. Semua yang diinginkannya pasti tercapai. Aku jadi iri padamu, Mikoto.." keluh Kushina.
"Eh, itu dia. Fugaku-kun!" panggil Mikoto melambaikan tangannya ke arah kekasihnya yang berada di belakang Kushina beberapa meter membuat Kushina memutarkan kepalanya untuk melihat sesosok makhluk Uchiha yang menurutnya agak menyebalkan. Tapi, yang lebih membuat Kushina tambah sebal adalah seorang pria yang berada di samping Fugaku menyengir lebar ke arah Kushina membuat gadis bermata hijau ini melengos kesal.
"Aku mencarimu kemana-mana ternyata kau di sini." celetuk Fugaku yang langsung duduk di samping Mikoto. Mikoto langsung merangkul lengan kekasihnya itu membuat Kushina sedikit cemberut karena iri dengan pemandangan itu.
"Eh, eh! Siapa yang suruh kau duduk di sini? Sana! Sana!" usir Kushina ketika melihat Minato duduk di sampingnya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Yah, masa aku berdiri sih? Nanti aku kayak satpam dong." sahut Minato dengan cengiran yang berhasil membuat Kushina semakin eneg melihatnya. Minato memang suka menggoda Kushina hingga Kushina terkadang menangis dengan ulahnya.
"Peduli! Memang kamu pantasnya kayak satpam! Lihat saja itu tampang kamu ga jauh beda sama satpam di sekolah!" sentak Kushina kembali naik darah melihat Minato dengan wajah innocent.
"Sudah, sudah Kushina-chan. Lagipula tidak apa-apa kan Minato-kun duduk disitu? Biar lebih ramai.." celetuk Mikoto manja dengan Fugaku.
"Kau sih enak ada pasanganmu. Masa aku harus sama trouble maker ini sih? Euuh.. mendingan sekalian aja aku sama Jiraiya-sensei yang sama mesumnya sama dia." ketus Kushina membuang muka ke arah lain.
"Tapi, kalau dilihat kalian berdua cocok kok." kata Fugaku membuat Kushina melongo dan semburat merah muncul di kedua pipi Minato.
"Tentu saja lah. Semua wanita yang berada di dekatku kan cocok denganku semua, termasuk tante bawel ini. Hehehehe.." sahut Minato hendak merangkul Kushina yang langsung ditepis keras-keras oleh Kushina.
"Hii, apa-apaan kau om-om mesum? Menyentuhku sembarangan! Siapa juga yang ingin denganmu? Cih, kau sama saja mimpi buruk bagiku!" bentak Kushina kesal. Minato hanya menyengir tanpa dosa.
"Kushina, Kushina, Kushina.. Sifatmu yang tomboy dan emosional memang menarik dimataku. Itulah yang membuatku semakin ingin menjahili dan menggodamu." kata Minato semakin membuat Kushina naik darah.
"Bicara apa sih kau ini? Dasar cowok aneh!" Kushina langsung melesat pergi meninggalkan Minato, Fugaku dan Mikoto yang melihat dia pergi menuju kelasnya.
"Sepulang sekolah saja kau katakan padanya." ujar Fugaku. Minato mengangguk membuat Mikoto terheran-heran.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Nanti kau juga tahu.."
0o0o0o0o0o0o0
Sudah 10 menit yang lalu bel sekolah berbunyi dan murid-murid Konoha Saitani High School menuju rumahnya masing-masing untuk mengistirahatkan kepala dan pikiran mereka dari pelajaran-pelajaran laknat yang terus membuat oksigen di otak menguap sehingga tak bisa mencerna pelajaran dengan baik.
Tapi, ada satu gadis yang masih berada di kelas walau kelas sudah kosong tinggal dirinya yang belum pulang. Kushina masih sibuk mencatat catatan yang berada di papan karena dia tadi sempat tertidur alhasil dia ditegur oleh Jiraiya dan disuruh mencatat catatan di papan tulis sebelum pulang. Setelah selesai, Kushina membereskan bukunya dan menuju loker tempat menyimpan bukunya.
Sekolah sudah sangat sepi. Kushina hanya mendengar suara langkah kakinya yang saling beradu dan berpikir mungkin hanya dirinya seorang saja di koridor itu atau di sekolah ini. Tanpa rasa takut, Kushina menuju lokernya. Namun, Kushina merasa ada yang mengikutinya karena terdengar suara langkah kaki selain dirinya. Dilihatnya ke belakang dan ternyata kosong. Tak ada siapa pun. Kushina mengangkat bahu dan melanjutkan langkahnya.
Hening. Itulah suasana yang sedang dialami Kushina ketika membereskan buku-bukunya yang sedikit berantakan di dalam loker dan memasukkan beberapa buku ke dalam lokernya. Gerakan Kushina sempat terhenti seketika saat ia mendengar lagi suara langkah kaki. Ia melirik sedikit ke arah kanan dan tak ada seorang pun di sana. Kushina menghela nafas, setelah selesai ia menutup lokernya dan menguncinya. Dan…
"Ha… KYAAAAA—Hmmp?" sesosok makhluk yang dikenalnya telah berdiri di depannya dan langsung membekap mulutnya saat ia menjerit kaget. Lalu, melepaskannya.
"Huaaah! Hah, hah.. Minato! Apa-apaan sih kau? Mengagetkanku saja!" protes Kushina memegang dadanya yang berdegup cepat mengira Minato adalah orang yang akan berniat buruk padanya. Minato malah memberikan sebuah cengiran khasnya.
"Cengar-cengir, memang lucu ya? Tidak ada rasa bersalah sama sekali.." keluh Kushina masih mengatur nafasnya. Dan, tiba-tiba cengiran Minato memudar membuat Kushina sedikit menaikkan alisnya.
Minato menempelkan tangan kanannya di sisi bahu kiri Kushina. Dan, tangan kirinya dia selipkan ke saku celananya. Yang semakin membuat Kushina heran adalah wajah Minato yang mendekat padanya. Membuat Kushina memikirkan hal-hal yang negatif mengingat Minato adalah seorang pria yang mesum.
"K-kau, mau apa?" tanya Kushina dengan suara bergetar melayangkan tangannya ke arah Minato yang begitu mudah langsung ditepis oleh Minato dan tangannya di genggam erat.
"Diamlah.. Kau tak akan bisa menikmatinya.." lirih Minato dengan tatapan mata yang tajam menusuk mata Kushina. Keringat mulai mengucur dari dahi Kushina dan dari raut wajahnya bisa dibaca bahwa dia sangat ketakutan mengingat sekolah sangat sepi tak ada orang selain dirinya dan Minato.
"Mi-Minato kumohon jangan.. Jangan lakukan apapun padaku.." pinta Kushina ketika wajah Minato semakin mendekati wajahnya. Jemari kanan Minato pun mulai menyentuh kerah seragam Kushina membuat sang gadis berambut merah ini menunduk dengan air mata yang sedikit menumpuk di pelupuk matanya.
"Mi-Minato.. Jangan.." Minato memegang dagu Kushina dan menarik wajahnya sehingga kini mereka berdua saling bertatapan dengan isyarat mata yang tidak di mengerti Kushina.
Minato mendekatkan wajahnya ke bahu Kushina atau lebih tepatnya Minato mendekatkan bibirnya ke telinga Kushina. Minato sudah merasakan getaran dari tubuh gadis tomboy ini dan membuat pria ini sedikit meringis geli karena tak mengira seorang Kushina, gadis beringasan yang tomboy ternyata sangat takut dengan hal-hal seperti ini. Yah.. Minato memakluminya karena seperti apapun Kushina dia tetap adalah seorang wanita yang mempunyai perasaan sensitif.
"Kushina.. aku.." Kushina menelan ludah. Tubuhnya sudah merinding sejak tadi dan ia ingin berteriak tapi tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Suaranya tercekat di tenggorokannya.
"Aku mencintaimu… Maukah kau menjadi kekasihku?" bisik Minato tepat di telinga Kushina sehingga walau dalam keadaan seramai apapun Minato berbicara di dekat telinganya Kushina bisa mendengar. Dan, itu membuat Kushina termangu sesaat memproses otaknya dan mencerna kata-kata Minato tadi.
"Minato.. kau..?" Minato tersenyum jahil. Ternyata, Minato melakukan hal itu hanya ingin mengerjai Kushina saja.
BUAK! Minato terkena hantaman buku yang sedang dipegang Kushina dan kepalanya sedikit menghasilkan benjol yang super besar.
"Wadaw! Kok malah dipukul sih? Dimana-mana, kalau orang ditembak tuh dijawab! Bukannya malah dipukul!" keluh Minato mengelus-ngelus kepalanya. Wajah Kushina yang tadi semula tegang menjadi terlihat cemberut setelah mengetahui apa yang dikatakan Minato tadi.
"Hey, kamu itu sudah membuatku ketakutan! Kukira kau mau memperkosaku! Kau mau menjahiliku ya dengan cara seperti itu? Dasar bodoh!" ketus Kushina merengut.
"Kau saja yang pikirannya selalu negatif padaku! Sekarang siapa yang mesum, hah? Kau kan? Memikirkan yang aneh-aneh saja. Dasar cewek cabul." ucap Minato mengelus-ngelus kepalanya yang masih terasa nyeri. Kushina menghentakkan kakinya kesal dan beranjak pergi meninggalkan Kushina.
"Eit, Kushina tunggu. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau mau menjadi kekasihku?" tanya Minato lagi setelah menggaet tangan Kushina agar tidak menjauhinya. Kushina menunduk. Kalau kalian bisa melihatnya dengan baik, ada garis merah yang memenuhi kedua pipinya.
Kushina hanya tidak menyangka bagaimana bisa musuh bebuyutannya selama ini yang selalu mengajaknya ribut dan adu mulut, menyatakan cinta padanya? Itu kan hal yang terlalu mustahil, baginya. Seorang musuh tidak akan bisa jatuh cinta pada musuhnya kan?Namun, perlu diketahui, saat Minato sempat jatuh sakit dan tak masuk selama seminggu hal itu membuat Kushina tampak kesepian tanpa kehadiran Minato yang selalu menganggunya dengan suaranya yang berisik itu.
"Kau tidak mau ya? Yaa.. sudah tidak apa-apa.. Aku pulang dulu ya.." kata Minato lesu membalikkan tubuhnya beranjak pergi dengan perasaan sedih. Belum ada selangkah, Minato merasa ada yang menarik lengannya dan membalikkan tubuhnya sehingga..
CUP! Satu kecupan manis nan hangat menghampiri bibir Minato yang membuat Minato tersentak seketika mengetahui bahwa Kushina mencium bibirnya dengan lembut. Minato pun tak mau kehilangan kesempatan, dipeluknya Kushina dengan hangat.
"Kushina.. kau.."
"Sudah sore.. Antarkan aku pulang, bocah mesum." seru Kushina melangkah duluan dan diikuti Minato dari belakang.
Sejak saat itulah, Minato dan Kushina berpacaran hingga 7 tahun lamanya tetapi sangat awet. Sampai akhirnya Minato melamarnya dan Kushina menangis terharu..
Flashback mode: off
"Whahahahahahaha! Bocah mesum, katanya! Hahahahaha! Otousan, ternyata kau seorang bocah mesum!" tawa Naruto tak berhenti setelah Minato menceritakan masa-masanya saat ia bertemu dengan Kushina.
"Naruto, hentikan! Dilihat orang-orang tuh! Bikin malu saja deh!" ucap Minato menimpuk kepala Naruto dengan sumpit.
"Maaf, maaf. Habis lucu sih. Hehehehehe.."
"Jadi, kapan kau akan mengenalkan wanita itu padaku?" tanya Minato. Raut wajah Naruto langsung berubah sendu.
"Aku ada masalah dengannya, Tousan.."
0o0o0o0o0o0o0
Debu-debu bertebaran dimana-mana ketika Hinata membersihkan bagian atas lemari bajunya yang sudah lama tidak dia bersihkan. Banyak debu tebal yang bertebaran bisa membuat orang terbatuk-batuk, untuk saja Hinata menggunakan masker. Hinata sedang sibuk membersihkan apartemennya karena kebetulan hari ini dia libur kerja dan kampusnya juga libur. Daripada berdiam diri di apartemen sambil menonton televisi yang hanya menanyangkan acara seperti itu-itu saja, Hinata berpikir untuk membersihkan apartemennya yang sudah lama tidak dia bersihkan.
Yura yura to..
Yukanda sora e..
Kimi no moto e tonda yuke…
Handphone Hinata yang tergeletak di meja ruang tamu bergetar dan menghasilkan bunyi yang membuat Hinata harus buru-buru mengambil handphonenya.
"Halo?"
"Hinata, apa kau siang ini ada acara?" tanya seseorang di seberang sana. Hinata melepaskan maskernya.
"Tidak, Sasuke-kun. Memang ada apa?" kata Hinata mengelap meja ruang tamunya.
"Kalau tidak ada, bisakah kau nanti sore sekitar jam 3 datang ke restoran Puffy De Lante?" tanya Sasuke. Hinata mengerutkan dahinya heran. Itu kan restoran mewah yang terletak di pinggiran kota Konohagakuen.
"Bi-bisa. Memang ada apa?" cetus Hinata menaruh kemoceng dan membuka celemeknya.
"Nanti Sakura akan menjelaskannya. Sudah dulu ya. Aku ada urusan." Sasuke memutuskan pembicaraan membuat Hinata terbengong-bengong melihat handphonenya tak mengerti perkataan Sasuke. Hinata mengangkat bahunya lalu bergegas beres-beres kembali.
Jam 14.30. Seseorang menekan bel apartemen Hinata.
Ting… tong..
"Tunggu sebentar." sahut Hinata baru keluar dari kamar mandi dan mengenakan kimono handuk bergegas membukakan pintu.
"Sakura-chan?"
"Hay Hinata. Kita tidak ada waktu lagi, kau harus bergegas. Kenapa kau belum bersiap-siap sih? Baru mandi ya?" kata Sakura langsung melangkah masuk ke dalam apartemen Hinata membuat sang pemilik apartemen terheran-heran melihatnya.
"Maksudmu apa, Sakura-chan?"
"Tadi kau sudah di telfon Sasuke-kun kan? Sekarang, kau harus bersiap-siap. Nih, pakai ini ya." Sakura menyodorkan sebuah kantong tas berwarna perak ke arah Hinata. Hinata hanya menurut dan mengambil barang yang diberi oleh Sakura tadi.
5 menit kemudian, Hinata keluar dari kamar mandi mengenakan sebuah dress selutut berwarna putih dengan pita besar di bagian dada berwarna krem.
"Sudah? Sekarang waktunya untuk meriasmu." kata Sakura menarik tangan Hinata masuk ke dalam kamarnya dan menyuruh Hinata duduk di depan meja rias.
"A-apa yang mau kau lakukan, Sakura-chan?" tanya Hinata kebingungan saat Sakura mengeluarkan peralatan make-upnya.
"Mengubah menjadi wanita paling manis di dunia." jawab Sakura tersenyum misterius. Hinata bergidik ngeri mengingat ketika Hanabi hendak mendandaninya saat acara perjodohan seperti seorang tante-tante mau menjual diri.
Pertama, Sakura membubuhkan sedikit bedak berwarna peach agar wajah Hinata tidak terlalu terlihat putih pucat. Selanjutnya, Sakura mengeluarkan sebuah benda seperti kuas dan blush on yang kemudian Sakura memoleskan warna merah muda di kedua tulang pipi Hinata sehingga tampak Hinata seperti sedang merona dengan manisnya. Tak berhenti sampai di situ, Sakura mengeluarkan kotak eye shadownya dan memilihkan warna putih dan hijau untuk memperindah kelopak mata Hinata. Hinata hanya diam dan memberontak saat Sakura mengubah atau lebih tepatnya mempermak wajahnya habis-habisan menjadi sosok yang tidak diketahui Hinata. Setelah itu, Sakura mengeluarkan maskaranya dan melentikkan bulu mata Hinata yang panjang itu. Dan yang terakhir, Sakura memoleskan lipstik berwarna oranye jeruk ke bibir mungil Hinata. Sakura juga merubah gaya rambut Hinata yang dibiarkan tergerai seadanya, ia menguncir rambut Hinata menjadi satu lalu dikesampingkan dan diikat dengan kunciran berbentuk beruang kecil.
"Taaraaaaaa! Lihat, kau terlihat manis kan?" ujar Sakura setelah selesai me-make over wajahnya.
Dan, mata Hinata menangkap sesosok gadis di cermin mengenakan gaun putih cantik dengan pita di dada berwarna krem dengan wajah yang sanggup membuat lelaki manapun terpesona oleh penampilan wajahnya yang begitu menawan dan anggun. Namun, hanya ada satu yang mengganjal di pikiran Hinata sejak tadi saat Sasuke menelpon.
"Oh ya, ada satu lagi yang kelupaan.." ujar Sakura mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dua buah kotak berwarna merah yang isinya anting emas putih dan kalung yang terukir nama Hinata. Segera saja Sakura memasangnya di kedua telinga dan leher Hinata.
"Ba-bagus, Sakura-chan.. Tapi, ada apa sebenarnya kau mendandaniku seperti ini?" tanya Hinata memegang kalung berukir namanya itu.
"Hmm.. Kau akan mendapatkan jawabannya saat di restoran nanti. Oke? Sekarang, kau harus bergegas cepat. Sudah hampir jam 3." seru Sakura menunjuk jam dinding di kamar Hinata.
"Ta-tapi, naik apa?"
"Itu.." Sakura menunjuk sebuah mobil berwarna perak yang sudah terparkir di depan gedung apartemen Hinata. Lengkap dengan seorang sopir di dalamnya.
"Cepat! Nanti dia menunggu! Eh, tunggu.. Ada satu lagi." ucap Sakura ketika melihat kaki Hinata yang polos tanpa mengenakan apapun.
Sakura mengeluarkan sebuah high heels putih yang tidak terlalu tinggi namun cukup di kaki mungil Hinata membuatnya sedikit lebih tinggi. Karena, Sakura tahu Hinata bukanlah gadis yang suka mengenakan sepatu seperti tangga berjalan, menurut Hinata. Sakura memilih sebuah sepatu hak tinggi yang haknya tidak terlalu tinggi tetapi terlihat anggun dan cantik.
"Hati-hati ya! Kalau sudah sampai, katakan saja namamu pada pelayan di sana." perintah Sakura melambaikan tangannya ke arah Hinata yang sudah masuk ke dalam mobil melambai kecil ke arah Sakura.
Perjalanan menuju restoran Puffy De Lante membutuhkan waktu 20 menit karena letaknya yang lumayan jauh di pinggiran kota Konohagakuen. Hinata tidak mengerti apa yang telah direncanakan oleh SasuSaku tersebut. Menjodohkannya dengan seseorang yang tidak dikenalinya? Konyol sekali. Bukankah Hinata pernah berkata kalau dia sangat tidak suka yang namanya dijodohkan? Urusan kekasih hati biarlah dia yang mencari.
Mobil yang ditumpangi Hinata memasuki pekarangan restoran Puffy De Lante yang berhiaskan beberapa lampu dan lilin-lilin kecil di sekitar jalannya. Dengan langkah yang hati-hati mengingat bahwa Hinata mengenakan high heels, Hinata turun dari mobil dan memasuki restoran itu. Seorang waitres berambut coklat panjang dan sebuah tag name tersemat di dada kirinya bertuliskan 'Karashi' menyapanya.
"Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Karashi dengan ramah. Hinata terlihat kikuk dan gugup.
"Ehm.. Sa-saya… I-itu… Sa-saya disuruh oleh seorang teman saya untuk datang ke restoran ini karena seseorang telah menunggu saya di sini." jawab Hinata malu-malu.
"Kalau saya boleh tahu, siapa nama Nona?"
"H-Hyuuga Hinata.." Karashi menuju ke kasir membuka sebuah buku daftar tamu. Sembari menunggu, Hinata melihat-lihat isi restoran itu. Sangat mewah dan terlihat mahal. Seperti restoran bintang lima. Orang-orang yang berada di sana pun tergolong orang-orang kayak terlihat dari gaya berpakaian mereka yang mengenakan jas dan gaun. Hinata pernah mendengar nama restoran ini, namun tidak pernah melihatnya.
"Nona Hyuuga, memang seseorang yang sudah memesan meja dan kursi untuk Anda sudah menunggu. Mari, saya antar." ucap Karashi tiba-tiba setelah membuka daftar tamu membuat Hinata terkejut. Hinata pun mengikuti Karashi dari belakang.
"Silahkan.." Karashi menarik kursi untuk Hinata. Hinata mendudukinya dengan sopan dan Karashi meninggalkannya sementara.
"Siapa yang memesan semua ini? Terlalu mahal untuk mahasiswa sepertiku kan?" gumam Hinata setelah melihat lebih dalam isi restoran itu.
"Hinata-chan?" celetuk seseorang yang suaranya dikenali oleh Hinata. Hinata langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Na-Naruto-kun? Se-sedang apa kau di sini?" tanya Hinata tak percaya bahwa Naruto kini sudah berada di depannya dengan pakaian formal yang menurut Hinata sangat gagah. Naruto mengenakan kemeja putih yang dipadu blazer hitam tersemat sebuah mawar merah kecil di sakunya dan celana hitam dengan sepatu pantofel hitam.
"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di sini?" kata Naruto membalikkan pertanyaan.
"A-aku disuruh Sasuke-kun ke sini.."
"Aku juga di suruh Sakura ke sini.."
"Jadi...?" Tertawalah mereka berdua. Ternyata, Sasuke dan Sakura memang sudah merencanakan semuanya. Sasuke dan Sakura ingin mempertemukan kembali Naruto dengan Hinata agar semua masalah clear. Naruto menarik kursi yang berada di depan Hinata dan duduk di depan Hinata.
"Kau cantik.." puji Naruto memandang lekat-lekat Hinata. Hinata hanya menunduk malu.
"Ja-jangan membuatku malu, Naruto-kun.."
"Sungguh.. Aku tidak bohong. Kau sangat cantik dan anggun. Aku tidak tahu kau pandai berdandan." ucap Naruto menopang dagunya dengan kedua tangannya dan mata yang terus menatap Hinata tak berkedip.
"Me-memang tidak.. Sakura-chan yang mendandaniku.. A-aku tidak pandai berdandan.." cetus Hinata memilintirkan rambutnya yang diikat itu agar menghilangkan rasa gugupnya. Dan, Karashi datang membawa segelas wine dan dua buah gelas kaca.
"Want to drink?" tawar Naruto yang disambut anggukan Hinata. Naruto menuangkan anggur ke gelas Hinata lalu ke gelasnya kemudian mereka bersulang dan meminum anggur itu secara bersamaan.
"Ehm.. Naruto-kun, bo-boleh aku bertanya?" tanya Hinata setelah menegak anggur dan meletakkan gelas di sampingnya.
"Tentang kejadian kemarin? Aku bisa jelaskan itu.." sahut Naruto sebelum akhirnya mampu menebak tepat pikiran Hinata apa yang ingin dikatakan oleh Hinata membuat Hinata sedikit terlonjak kaget.
"Kau tahu kan kalau Shion itu hanya mantanku saja? Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa-bisanya datang dan berkata seperti itu. Tapi Hinata, sungguh aku tidak pernah sekalipun tidur dengannya! Menyentuh seujung kukunya pun tidak!" kata Naruto berusaha meyakinkan Hinata. Memegang erat kedua tangan Hinata hingga Hinata merasa wajahnya memanas dan jantungnya tak mau berdetak secara normal.
"A-aku percaya padamu, Naruto-kun.." ucap Hinata yang akhirnya dia bisa mengontrol dirinya agar tidak pingsan di depan Naruto. Sungguh, Hinata pun merasa heran kenapa hanya di depan Naruto saja Hinata selalu terlihat kikuk dan gugup sehingga membuat Hinata pingsan dalam sekejap? Padahal, saat bersama Sasori dulu Hinata tidak seperti itu.
"Ehm.. Naruto-kun? Boleh kutanya satu hal lagi?"
"Tentu saja. Apa?"
"Euhm.. A-a.. Uuh.. A-apa kau menyukaiku?" papar Hinata menundukkan wajahnya yang semakin gelap karena warna merah meliputi wajah gadis itu. Naruto terkejut. Air mukanya tiba-tiba berubah jadi serius dan sedikit senyum kecil yang terlihat di sana. Naruto melepaskan genggaman tangannya di tangan Hinata membuat gadis ini mendongak ragu ke arah pemuda itu.
"Gomen Hinata, tapi.. Aku tidak menyukaimu.." ucap Naruto yang langsung menohok jantung Hinata yang terasa seperti tertancap panah yang baru saja dilontarkan oleh Naruto. Hinata merasakan ngilu di bagian dadanya. Ia menunduk. Air mata menumpuk di pelupuk matanya.
"Heuhm.. Ke—Eh?" Hinata sedikit terkejut saat Naruto memegang dan menarik dagunya sehingga kini ia bisa menatap secara jelas wajah pemuda yang dikaguminya sejak awal. Dan, Hinata merasa sangat konyol sekarang saat ia mengatakan hal itu pada Naruto.
"Karena aku.. Mencintaimu.. Bukan menyukaimu…" kata Naruto membuat Hinata terperangah dan raut wajahnya berubah menjadi kaget seperti melihat sesosok makhluk planet lain yang mendarat di Bumi.
"Na.. Naruto-kun, kau…?"
"Would you to be my girl?" ucap Naruto menyatakan perasaannya sembari memberikan mawar merah yang tadi tersemat di saku blazernya. Hinata tidak bisa menahan lagi air matanya yang sudah membendung dan jatuhlah butiran-butiran bening karena terharu dengan perkataan Naruto.
"Naruto-kun… I do!" seru Hinata langsung memeluk Naruto erat seperti tak ingin melepaskannya walau semenit saja. Naruto membalas pelukan Hinata dengan hangat sambil mencium rambut Hinata yang beraroma mint itu.
Dan, dari kejauhan bisa dilihat sepasang kekasih berambut raven dan merah muda tengah tersenyum-senyum melihat Naruto dan Hinata berpelukan dengan mesranya sambil memegang sebuah gelas berisikan wine. Sakura tersenyum pada Sasuke karena rencana mereka berhasil secara lancar.
Tapi, ada satu hal yang mereka lupakan..
.
.
.
.
TBC…

http://www.fanfiction.net/s/5793472/8/Lovely-Waitress 
>> Read More FATALLITY_ErrOR

LOVELY WAITRESS CHAPTER 7 (THE PAST RETURN)

Lovely Waitress

Author: Blueberry Cake 
Rok biru yang mengembang dan di rambutnya tersemat sebuah hiasan kepala warna putih. Walau hanya seorang pengantar makanan, tetapi gadis ini mampu membuat seorang lelaki memimpikannya setiap malam. EPILOG...
Rated: Fiction K - Indonesian - Romance/Friendship - Naruto U. & Hinata H. - Chapters: 10 - Words: 33,651 - Reviews: 140 - Favs: 40 - Follows: 2 - Updated: 06-19-10 - Published: 03-05-10 - Status: Complete - id: 5793472 


Uhuk! Uhuk! Hatsi! Hatsyi! Sroootttttt… *nyusut ingus*. Readers: Jorok amat sih lu!. Haaaah, maaf ya readers kalau updatenya agak lama lagi. Soalnya Blue lagi sakit nih, jadinya ga bisa konsentrasi buat ngelanjutin fict ini. Wah, fict ini kudu buru-buru di tamatin kalau ga Blue bakalan punya utang bikin fict HTNH. Mana udah mau deket hari H lagi. Gaswat! Gaswat! Oh ya, beberapa waktu lalu Blue sempat menerima review yang beberapa teman mengatakan kalau Shion dihamili Sasori. Kyakakakakakak! –dilempar tomat- Ternyata, para readers sudah menduga-duga ya? Hmm.. Tapi, itu cukup memberikan Blue ide. Hahay! Arigatou gozaimasu! Review itu cukup membuat Blue mendapatkan inspirasi!
Disclaimer: Blue tuh udah bosan berulang kali harus mengatakan kalau Naruto untuk adalah milik Om Kishi. Huh, merepotkan.. *topang dagu sama Shikamaru*
Enjoy it!

Lovely Waitress
Mentari baru saja bangun dari tidur panjangnya dan berniat akan meneruskan pekerjaan seumur hidupnya. Udara segar pun menyambut dengan ramah kedatangan mentari bersamaan dengan mekarnya bunga-bunga yang segar ditetesi embun. Tapi, pagi yang indah itu tidak disambut dengan kehangatan seperti mentari oleh Naruto ketika dia tahu sekarang seseorang yang pernah dia cintai dan mengkhianatinya berada didepannya.
"Shion? Kenapa kau ada di sini?" tanya Naruto mengerutkan dahinya melihat Shion yang tertunduk.
"Naruto.. Aku.." Shion tak meneruskan kata-katanya. Ia mengigit kuku kelingkingnya untuk menghilangkan rasa gugup yang berlebihan. Naruto menunggu.
"Apa? Kalau tidak penting, nanti saja kau datang lagi. Ini kan masih pagi." sungut Naruto kesal.
"Begini.. Bisakah nanti kau datang ke Konoha Garden jam 4 sore?" tanya Shion dengan nada yang terdengar sangat cemas.
"Mau apa?"
"Ada yang mau kubicarakan.. Kumohon.. Datanglah.." pinta Shion memohon. Naruto menggaruk kepalanya sembari menghela nafas.
"Baiklah. Lebih baik sekarang kau pergi. Ini masih terlalu pagi untuk kau datang kemari." kata Naruto dengan pandangan menatap arah lain. Shion tersenyum.
"Arigatou! Akan kutunggu di sana!" Lalu, Shion pun pergi dari hadapan Naruto. Naruto menguap lebar saat melihat Shion menjauh.
Ah, uruwashiki ai no uta..
Itsu no hi mo kawarazu ni..
Atashi no mae de zutto utatteite onegai..
Kono mune ga tomaru made..
Kono toki ga owaru made..
Uruwashiki hito yo itsu mad mo dakishimete..
Handphone Naruto berbunyi. Naruto yang mendengarnya langsung berlari menuju kamarnya dan melihat ID callernya.
Hinata-chan…
"Apa? Dia menelfonku pagi-pagi seperti ini? Bukankah sekarang dia ada di Otogakuen? Angkat tidak ya? Hmm.. angkat saja deh mungkin aja penting.." gumam Naruto setelah melihat nama Hinata tertera di layar handphone.
"Halo?"
"Halo? Na.. Naruto-kun?"
"Ya? Ada apa Hinata-chan?"
"Ehm.. K-kau hari ini ada acara?" tanya Hinata dengan nada malu-malu. Naruto berpikir sejenak.
"Tidak. Memang kenapa?"
"Hmm.. Maaf bila aku merepotkanmu.. Ta-tapi, bisakah kita nanti sore bertemu di Konoha Garden?" wajah Naruto langsung sumringah. Hinata mengajaknya ke Konoha Garden? Itu berarti Hinata telah kembali ke Konoha.
"Bisa! Tentu saja bisa! Jam berapa?" tanya Naruto penuh semangat.
"Jam 4 sore.."
"Oke! Akan kutunggu kau di sana ya! Daaa.." Naruto memutuskan pembicaraannya. Ia langsung melompat-lompat kegirangan tanpa mengingat bahwa dia sudah mempunyai janji dengan Shion untuk bertemu di tempat yang sama. Tampaknya Naruto tak memikirkan hal itu.
"Waduh, sudah jam 8. Kelas dimulai jam 9. Harus buru-buru nih." celetuk Naruto ketika melihat jam weker berbentuk tweety yang ada di samping tempat tidurnya menunjukkan jam 8 pas.
Sakura membolak-balikkan halaman buku yang sedang dibacanya dengan serius. Mahasiswi jurusan kedokteran itu mempunyai hobi membaca yang setiap kali ada waktu luang terkadang dia sempatkan untuk ke perpustakaan membaca artikel-artikel kedokteran. Cita-citanya sejak kecil yang sangat dikagum-kaguminya. Sebenarnya, cita-cita itu terwujud dengan tidak sengaja. Awalnya Sakura menginginkan menjadi polisi, tapi suatu hari ia kecelakaan yang membuatnya tulang lengannya retak.
Sakura masih ingat bagaimana sang dokter mengobatinya dengan perhatian yang tiada henti-hentinya. Memperjuangkan nyawa Sakura penuh perjuangan. Semenjak itulah Sakura ingin menjadi dokter dimana menjadi orang yang berusaha menyelamatkan nyawa orang lain. Tak heran, karena hobinya itu Sakura pun harus memakai kacamata plus.
"Sakura!" teriak seorang lelaki yang sembarangan teriak tak tahu aturan yang tertera di dinding perpustakaan dengan tulisan sebesar tong air bertuliskan 'KEEP SILENT'. Beberapa orang pun langsung menyahutin dengan mendesiskan nada menyuruh lelaki itu mengecilkan volume suaranya.
"Baka! Kau kan tahu ini perpustakaan, kenapa teriak-teriak kayak di hutan saja?" omel Sakura memukul kepala Naruto dengan buku setebal 5 cm.
"Wadaw! Aduh, sakit tahu. Hehehehehe, maaf deh. Habis aku lagi senang sih." ujar Naruto tak henti-hentinya menyengir yang langsung disadari Sakura.
"Hm? Memang ada apa? Kalau wajahmu penuh cengiran seperti itu, pasti ada sesuatu." tebak Sakura melirik Naruto lalu mengembalikan pandangannya pada buku yang berada di pegangannya.
"Hinata-chan kembali!"
"Hah?"
"Iya! Hinata-chan kembali ke Konoha!" Sakura tersentak yang langsung melepaskan kacamata bacanya.
"Apa kau bilang? Tahu darimana?"
"Tadi pagi dia menelfonku, dan dia bilang kalau ingin bertemu denganku di Konoha Garden jam 4 sore." kata Naruto.
"Aneh, biasanya dia menelponku terlebih dahulu." gumam Sakura. Naruto terkekeh.
"Mungkin karena dia rindu padaku."
"Huh, GR! Kamu ga masuk kelas?" tanya Sakura menutup bukunya.
"Ini saja baru keluar. Lihat dong sudah jam berapa." jawab Naruto. Sakura melirik arloji merahnya yang menunjukkan jam 12 lebih lima menit.
"Wah, sudah siang. Makan yuk? Aku lapar nih." ajak Sakura disambut anggukan Naruto.
0o0o0o0o0o0o0
Jam dinding di apartemen Hinata sudah menunjukkan jam setengah 4 sore. Hinata pun sudah bersiap diri untuk bertemu dengan Naruto di Konoha Garden. Hinata tersenyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu yang akan diungkapkannya pada Naruto nanti. Wajahnya pun mulai merona.
"Uuh.. Kenapa aku jadi grogi seperti ini? Easy.. easy girl.. You can do it.." ucap Hinata menyemangati dirinya. Kini dia sudah berada di depan cermin bersiap untuk merias diri.
"Cocoknya pakai baju apa ya? Ini atau ini?" gumam Naruto memegang dua buah kemeja berwarna hijau daun dan coklat.
"Yang hijau saja deh. Hahay! Kencan lagi deh sama Hinata-chan! Uhuy!" teriak Naruto sambil bersenandung riang. Ia benar-benar melupakan janjinya dengan Shion.
.
.
Naruto tengah berdiri di sebuah pohon beringin besar dikelilingi dengan bunga dandelion. Menunggu seseorang yang ditunggunya sejak 10 menit yang lalu belum juga muncul. Terdengar suara langkah kaki yang menuju ke arahnya.
"Akhirnya kau datang juga, Hina—Eh?"
.
.
"Duh, semoga Naruto tidak kelamaan menungguku." gumam Hinata melihat arlojinya yang sudah menunjukkan jam 16.10.
.
.
"Hay Naruto.."
"Shion? Sedang apa kau di sini?" tanya Naruto kaget yang muncul bukan Hinata melainkan Shion.
"Bukankah tadi pagi kita sudah janjian untuk bertemu di sini?" jawab Shion dengan heran. Naruto memutar bola matanya lalu menepuk dahinya dengan keras.
"Sial.. Baiklah, ada apa kau menyuruhku ke sini?" tanya Naruto melihat ke jalan kalau-kalau Hinata sudah datang.
"Ada yang ingin kukatakan padamu.."
"Cepat katakan.."
"Aku.."
Hinata berlari tergesa-gesa memasuki Konoha Garden. Ia terus berdoa agar Naruto tak pergi. Dan, matanya pun melihat rambut berwarna pirang dari balik pohon yang pasti sudah ditebak Hinata itu adalah Naruto. Tetapi, Hinata sedikit heran ketika melihat Naruto seperti bercakap-cakap dengan seseorang.
"Iya, kau kenapa?" seru Naruto tak sabar. Shion menarik tangan kiri Naruto dan menaruhnya di perut Shion. Naruto menautkan alisnya heran.
"A-aku hamil.." Naruto dan Hinata terkejut. Apa maksud dari wanita ini tiba-tiba mengatakan hal yang tidak-tidak?
"Hah? Kalau kau hamil, lalu kenapa? Ini kan anakmu!" sentak Naruto menarik kembali tangannya.
"Ini kan juga anakmu, Naruto!" Hinata menutup mulutnya tidak percaya.
"Jangan bercanda! Aku tidak pernah sekalipun tidur denganmu! Mungkin saja ini anak Sasori kan?" bentak Naruto dengan emosi yang tidak terkontrol.
"Aku.. aku masih menyayangimu, Naruto! Aku masih mencintaimu! Aku ingin kau bertanggung jawab." kata Shion berlinangan air mata. Naruto menatapnya seakan-akan ingin membunuhnya. Sedangkan Hinata? Ia sudah terlanjut sakit hati dengan Naruto yang tidak duganya ternyata menghamili wanita lain. Hinata pun menangis dalam diam agar tidak didengar Naruto dan Shion.
"Katakan padaku bahwa ini bukan anakku! Apa kau punya bukti bahwa aku pernah menidurimu? Kenapa kau bisa menuduhku padahal pacarmu adalah lelaki berambut merah bernama Sasori itu?" sentak Naruto memegang kedua bahu Shion.
"I-iya! Ini anak Sasori. Tetapi, dia tidak mau mengakuinya.. Maka dari itu.. Aku ingin kau yang menjadi ayahnya.." ujar Shion terisak. Dan, Hinata tak mendengar hal ini karena tenggelam dalam kesedihannya.
"Persetan! Aku sudah tidak ada urusan denganmu lagi! Untuk apa kau datang hanya untuk memintaku menjadi ayah dari bayi ini? Wanita tidak tahu malu! Menuduhku telah menghamilimu padahal menyentuh satu jarimu pun aku tidak sudi!" bentak Naruto sedikit mendorong Shion ke batang pohon.
"Naruto! Tapi, aku masih menyayangimu!"
"Peduli apa aku? Kemana saja kau saat aku menyayangimu dulu? Kau malah berselingkuh dengan lelaki yang pernah menjadi mantan orang yang kusukai. Ketika kau senang-senang, kau meninggalkanku. Sekarang, saat aku sudah mempunyai seseorang yang aku sayang menggantikan posisimu di hatiku kau datang kepadaku? Memintaku untuk kembali padamu? Huh! It's never ever!" ketus Naruto dengan kemarahan sudah di atas ubun-ubun.
"Tapi aku.." Krak! Terdengar bunyi patahan kayu. Rupanya Hinata mencoba pergi dari sana karena tak tahan membendung air matanya yang semakin deras keluar, tetapi kakinya menginjak patahan kayu yang membuat perhatian Naruto dan Shion teralihkan.
"Hi.. Hinata-chan?"
"Naruto-kun.. Kau.." Hinata berlari menjauhi Naruto sambil terisak. Rencananya untuk menyatakan cintanya pada Naruto berantakan gara-gara gadis bernama Shion itu.
"Hinata-chan! Semua gara-gara kau!" bentak Naruto pada Shion lalu pergi mengejar Hinata yang sudah menjauhi dirinya.
Hinata terus berlari sampai di apartemen dan masuk lift. Naruto pun menggerutu kesal tak bisa mengejar Hinata, sebuah lift terbuka dan Naruto langsung menuju apartemen Hinata.
Gadis lavender ini tidak memedulikan panggilan dan teriakan dari Naruto yang terus mengejarnya. Begitu keluar dari lift, ia langsung berlari karena ia tahu Naruto tak akan berhenti mengejarnya. Tanpa melihat tubuhnya berbenturan dengan seseorang di depan apartemennya.
BRUK!
"Aaaw…" rintih mereka berdua. Hinata mencoba berdiri dan mendongak melihat siapa yang ditabraknya.
"Gomenasai.. A-aku.." Hinata tak meneruskan kata-katanya ketika melihat seseorang di depannya sedang membantunya berdiri.
"Tidak apa. Kamu.. habis nangis ya? Kenapa? Jelek loh kalau lagi nangis.." kata orang itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dan mengelap air mata yang berlinangan di pipi Hinata. Langkah Naruto terhenti seketika melihat pemandangannya yang sangat menusuk hatinya yang ada di depannya.
"Sasori-kun.. Ah.. sedang apa kau di sini?" tanya Hinata menepis pelan tangan Sasori dari wajahnya.
"Itu.. Ada sesuatu yang harus kubicarakan padamu.." kata Sasori menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Hinata menautkan alisnya heran. Ada apa tiba-tiba lelaki yang tak mau dilihatnya lagi menemuinya?
"Apa?"
"Hinata… Aku… Aku masih mencintaimu… Maukah kamu kembali padaku?" Hinata tersentak. Naruto tak kalah terkejut melihat kejadian itu. Hatinya terasa remuk digilas buldozer yang menghancurkan setiap kepingan cintanya. Naruto pun akhirnya kembali ke dalam lift dengan perasaan terluka.
"What? What are you saying, man? I don't love you anymore!" bentak Hinata membuat Sasori sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Hinata membentaknya.
"Yes! I know I'm so useless! But, give me one more chance please.."
"No more heart for you anymore.. I already have someone I love.." ujar Hinata membelakangi Sasori. Benar-benar pahit. Setelah melihat Naruto bersama Shion, kini Sasori memintanya untuk kembali padanya?
"Oh, kau bercanda bukan, Hinata? Kau masih mencintaiku kan? Aku tahu itu kok. Aku bisa baca dari matamu." ujar Sasori dengan tampang innocent. Hinata memutarkan kepalanya ke arah Sasori dengan cepat.
"A-apa maksudmu?"
"Kau juga masih mencintaiku kan? Sudahlah, akui saja. Aku tahu kalau kau masih menginginkanku. Jangan menjadi orang yang munafik begitu." sahut Sasori.
PLAK! Satu tamparan dari tangan Hinata mendarat di pipi Sasori. Sasori terkejut. Dirasakannya pipinya terasa panas dan perih ketika mendapatkan 'hadiah' dari Hinata. Selama ini, Sasori mengira Hinata adalah gadis polos yang lemah tak bisa apa-apa karena sifatnya yang sangat lembut dan baik pada semua orang. Tapi tak di sangkanya bahwa Hinata bisa menamparnya sedemikian perihnya.
"Yang munafik itu kamu, Sasori-kun! Kalau kau masih mencintaiku kenapa saat itu kau memutuskanku? Saat aku menyayangimu, kau meninggalkanku? Tapi, sekarang saat aku sudah bersenang-senang tanpamu dan mencintai orang lain, kau datang lagi dengan mengatakan kau masih mencintaiku dan ingin kembali padaku? Sudah untung kamu cuma aku tampar, daripada aku lempar dari sini!" ketus Hinata lalu masuk ke dalam apartemennya. Meninggalkan Sasori yang masih melongo di depan pintu.
Hinata membanting tubuhnya di atas kasur. Menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua kekesalan dan rasa sakit hati yang sejak tadi dipendamnya. Air matanya tumpah begitu saja membasahi selimut dan bantal yang dipegangnya. Sungguh, perasaannya sangat tersakiti ketika mendengar perempuan bernama Shion itu meminta tanggung jawab kepada Naruto. Ditambah lagi dengan kedatangan Sasori yang secara tiba-tiba mengatakan bahwa dia masih mencintai Hinata dan memintanya untuk kembali ke Sasori. Apa-apaan itu?
Drrt.. Drrt.. Handphone Hinata bergetar. Hinata mengusap air matanya dan mengambil handphonenya, melihat siapa penelponnya.
Naruto-kun
Hinata termenung sejenak. Berpikir sebaik diangkat atau tidak, karena sejujurnya sekarang Hinata sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun termasuk Naruto. Akhirnya, Hinata melemparkan handphonenya ke samping dan membenamkan wajahnya di balik bantal.
"Shit! Tidak di angkat. Arrggh! Kenapa bisa jadi begini sih?" keluh Naruto mengacak-ngacak rambutnya dan ingin membanting handphonenya.
"Naruto, sedang apa kau di sini?" sapa seseorang ketika melihat Naruto berdiri sendirian di halte bis.
"Sasuke?"
"Kalau ditanya, di jawab." sahut Sasuke berdiri di samping Naruto.
"Sasuke.. Aku.. Butuh teman cerita.." kata Naruto pelan. Sasuke mengangkat satu alisnya heran. Dilihatnya raut wajah Naruto yang suram dan sedang tidak bersemangat itu. Itu bukanlah Naruto. Naruto yang dikenalnya selalu bersemangat dan ceria seperti apapun keadaannya. Pasti ada sesuatu..
0o0o0o0o0o0o0
Café Violetta sedang ramai pelanggan. Alhasil, semua pegawainya pun jadi serba sibuk karena harus mengantarkan makanan-makanan yang sudah disajikan. Semuanya terlihat bersemangat tetapi tidak untuk satu orang. Gadis itu duduk termenung di sudut dapur dengan tatapan kosong.
"Hinata! Kok malah melamun sih? Bantuin dong, lagi pada sibuk nih!" seru Sakura menepuk bahu Hinata membuat Hinata sedikit tersentak.
"Ah, eh.. Go-gomen.. A-aku lagi tidak enak badan.." ujar Hinata langsung tertunduk. Sakura menatapnya heran. Dipegangnya dahi Hinata.
"Tidak panas. Ada apa sih?" tanya Sakura. Hinata tak menjawab. Sakura melihat Hinata yang terus menundukkan wajah hingga akhirnya dia bisa melihat bola-bola bening yang keluar dari mata lavendernya itu.
"Hinata.. ada apa? Ceritakan padaku.." kata Sakura memegang bahu Hinata berusaha menenangkannya.
"Sa.. Sakura-chan.. A-aku.. Butuh teman cerita.." jawab Hinata terisak dan bahunya sedikit terguncang. Sakura memeluk Hinata dan membiarkan sahabatnya menangis sepuasnya dipelukannya.
.
.
"Apa? Shion meminta tanggung jawab darimu?" seru Sasuke terkejut.
"Ya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran perempuan itu, tetapi dia sudah menghancurkan rencanaku untuk jalan dengan Hinata-chan!"
.
.
"Tapi apa kau yakin bahwa Naruto yang menghamili gadis itu?" tanya Sakura mengusap bahu Hinata.
"A-aku tidak tahu.."
.
.
"Kalau seperti ini, akan susah membuat Hinata untuk percaya kepadamu lagi." kata Sasuke menyeruput jus tomatnya.
"Tapi.. aku juga melihat Sasori yang datang ke apartemen Hinata-chan. Sasori bilang dia masih mencintai Hinata-chan.."
.
.
"APA? Sasori?" Hinata mengangguk.
"Tiba-tiba saja dia datang ke apartemenku dan memintaku untuk kembali padanya. Padahal aku sudah sungguh-sungguh mencintai Naruto.." ujar Hinata menahan tangisnya.
.
.
"Bisakah kau membantuku, Sasuke? Aku mohon dengan sangat padamu.." pinta Naruto memohon. Sasuke terdiam. Tampaknya cowok emo ini sedang memikirkan sesuatu.
"Akan kuusahakan. Kubicarakan dulu dengan Sakura, mungkin saja dia juga mempunyai solusi yang baik." jawab Sasuke. Naruto menghela nafas.
"Segera kau rundingkan dengan Sakura ya. Aku butuh secepatnya karena tak ada waktu lagi." kata Naruto beranjak berdiri dan pergi. Sasuke mengerutkan dahinya? Tak ada waktu lagi?
0o0o0o0o0o0o0
Minato sedang asyik menyiram tanaman-tanaman di halaman belakang kos-kosan Naruto. Naruto memang mempunyai hobi menanam tanaman segar seperti bunga dan daun-daun yang bisa membuat tempatnya nyaman dan segar. Sambil bersenandung kecil, Minato mengarahkan selangnya ke arah bunga matahari.
Kruyuk.. Terdengar perut Minato berbunyi.
"Wah, ternyata sudah sore ya. Pantas saja aku lapar. Daritadi siang kan aku belum makan." ucap Minato mengelus perutnya yang penuh dengan cacing kelaparan.
Minato menuju meja makan dan membuka tudung saji. Yang di dapatkannya hanya sehelai lap dapur dan sebuah piring kosong. Minato menggerutu ternyata Fuuka belum menyiapkannya makan malam.
"Kalau tidak salah, tadi dia bilang mau pergi ke tempat temannya yang sakit. Haaah.. Aku beli makan di luar saja deh." kata Minato.
Jarak kedai ramen dengan kos-kosan Naruto memang tidak terlalu jauh, namun antrian yang panjang cukup membuat Minato mengeluh karena sejak tadi perutnya tidak juga berhenti bernyanyi untuk segera diisi bahan bakar. Sampai akhirnya tiba gilirannya.
Setelah membeli ramen, Minato hendak langsung pulang melewati Taman Konoha yang sudah tidak lama di lewati. Dia ingat bahwa itu adalah tempat pertama kalinya dia berkencan dengan Kushina. Minato menggeleng. Ah, untuk apa dia ingat-ingat masa lalu yang telah terkubur bersama pengkhianatan? Minato pun segera melangkah cepat bergegas meninggalkan tempat yang banyak meninggalkan kenangannya bersama Kushina.
Namun, belum ada 5 langkah dia berjalan matanya menangkap sesosok wanita berambut merah marun yang dikenalnya menggandeng seorang pria berjanggut dan tinggi. Minato mengerutkan dahinya, curiga. Sedang apa Fuuka di sini bersama laki-lakinya yang tidak dikenalnya? Fuuka tampak bergelayut manja di lengan pria itu. Minato pun berjingkat mendekati kedua orang itu dan menguping pembicaraan mereka di balik pohon.
"Fuuka, kamu tidak pulang? Apa nanti suamimu tidak mencarimu kau kan pergi sejak siang?" tanya pria itu sambil mengelus rambut panjang Fuuka.
"Hmm.. Biarkan saja. Aku kan hanya ingin berdua denganmu, Asuma.." jawab Fuuka manja. Asuma mencium keningnya dengan mesra. Minato yang sedang bersembunyi di balik pohon kaget bukan kepalang. Ternyata, perkataan Naruto benar-benar terjadi.
"Jadi ini kelakuanmu diluar selama tidak bersamaku, Fuuka?" ketus Minato keluar dari tempat persembunyiannya. Fuuka dan Asuma terkejut dan menjauh satu sama lain.
"A-aku bisa jelaskan semuanya.."
"Tidak usah kau jelaskan! Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri kau berselingkuh dengan pria ini! Hoo.. Ini sebabnya Naruto tak pernah menyukaimu, Fuuka. Karena sikapmu terlalu munafik dan kejam! Aku sudah rela meninggalkan Kushina demi kamu, sampai Kushina meninggal pun aku malah menikahimu, itu kulakukan demi kamu!" bentak Minato menuding-nuding Fuuka. Bibir Fuuka bergetar.
"A-aku tidak tahan, Minato! Aku tidak tahan dengan sikap Naruto yang membenciku bahkan rasanya dia ingin membunuhku! Aku tidak bisa hidup dengan lelaki yang mempunyai seorang anak yang sangat membenciku! Aku takut!" sentak Fuuka balas menuding Minato. Minato menatap Fuuka dengan tatapan memuakkan yang rasanya ingin dia memuntahkan sesuatu ke wajah wanita itu.
"Ohh.. Kau mau menyalahkan Naruto, begitu? Aku akhirnya tahu alasan Naruto membencimu, Fuuka. Dan besok, aku akan ceraikan kau!" cecar Minato lalu pergi dari hadapan Fuuka tak peduli dengan panggilan Fuuka yang terus memanggil-manggil dirinya untuk kembali. Yang ada sekarang tinggalah rasa bersalah karena tidak percaya dengan darah dagingnya sendiri.
Minato memasuki kos-kosan Naruto dengan langkah gontai. Selera makannya hilang seketika karena kejadian tadi. Ramen yang dibelinya tadi sudah dingin dan Minato tak ada niat untuk menyantapnya sama sekali. Ia berniat menaruhnya di meja makan mungkin saja Naruto akan memakannya. Tapi, hal itu tak akan terjadi karena Naruto kini sudah berada di meja makan bersama sebuah ramen instant di tangannya. Minato sedikit terkejut melihat kehadiran Naruto, didekatinya dengan ragu.
"Ehm.. Naruto?" panggil Minato. Yang dipanggil tak menyahut malah terus mengunyah tanpa memedulikan seseorang di belakangnya. Minato menarik kursi dan duduk di samping Naruto.
"Ada sesuatu yang harus kukatakan.." ujar Minato tak berani menatap Naruto. Naruto tak bergeming.
"Aku.. aku mau minta maaf. Aku tahu kalau aku salah. Kau benar, ternyata Fuuka adalah wanita bertopeng dua yang tak tahu malu. Baru saja aku memergokinya berjalan dengan pria lain." ucap Minato meletakkan ramennya di meja. Kalau diperhatikan baik-baik, bisa dilihat Naruto yang sedang mengunyah itu sedikit mengembangkan senyum sinis yang tak bisa dilihat oleh Minato. Seakan mengatakan, rasakan itu!
"Dan, aku berniat menceraikannya besok.." lanjut Minato lagi. Naruto yang hendak memasukkan sesuap ramen ke dalam mulutnya berhenti sejenak mencerna kata-kata Minato. Tak lebih dari tiga detik, ia memasukkan kembali ramen ke mulutnya.
"Apa kau setuju?" tanya Minato menatap Naruto dengan penuh harap ada kata-kata yang keluar dari mulut anaknya itu. Tetapi, yang terdengar hanyalah kunyahan dan bunyi gigi yang saling beradu.
Naruto berdiri dan membuang cup ramen itu, meninggalkan Minato yang masih menunggu kata-kata darinya. Tak peduli Naruto langsung masuk ke kamarnya. Minato menghela nafas putus asa. Darah dagingnya sendiri kini benar-benar membencinya..
Matahari sudah meninggi sejak 45 menit yang lalu dan Minato baru saja bangun dari tidur lelapnya. Ia membuka tirai yang menghalangi cahaya matahari masuk dan matanya langsung disinari cahaya matahari yang menyilaukan. Masih dalam keadaan setengah nyawa, Minato keluar dari kamarnya. Dalam saat yang bersamaan, Naruto pun ikut keluar. Tetapi dengan penampilan yang berbeda. Naruto memakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, memakai celana jeans biru dan sepatu kets putih. Minato menatapnya heran.
"Otousan, kenapa kau belum siap-siap? Ini kan sudah jam setengah 9." tanya Naruto melihat Minato masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek.
"Hah? Memang mau kemana?"
"Dasar pelupa. Bukankah kau kemarin mengatakan akan menceraikan Fuuka? Ayo, persidangan sudah menunggu. Aku tak mau berlama-lama.." Mata Minato yang semula sayu tiba-tiba mendadak terbuka lebar mendengar kata-kata Naruto.
"Naruto.. Jadi.. Kau..?"
"Otousan, kenapa sih kaget seperti itu? Ayo cepat. Aku ingin segera mengambil ayahku lagi." ujar Naruto memasang arlojinya di depan pintu. Minato tersenyum sumringah. Akhirnya, Naruto kembali padanya..
"Arigatou.. Kami-sama.."
.
.
.
.
TBC…

http://www.fanfiction.net/s/5793472/7/Lovely-Waitress 
>> Read More FATALLITY_ErrOR

Translate

Mengenai Saya

Foto saya
Saya cuma seorang blogger beginner...mohon di maklumi

Pengikut